ABSTRAK
ANALISIS TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM NOVEL LASKAR PELANGI
Karya sastra di Indonesia dewasa ini berkemabng dengan sangat pesat, salah satunya berbentuk novel. Novel pada dasarnya sebuah cerita dan merupakan jenis sastra yang banyak menggambarkan tentang masalah-masalah kemasyarakatan serta tidak dapat dipisahkan dari penulis dan pembacanya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tokoh dan penokohan tokoh utama dan tokoh pembantu dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, dengan teknik pengumpulan data dan studi pustaka.
Berdasarkan analisis penokohan yang dapat dilihat dari tokoh utama dan tokoh pembantu dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, dapat disimpulkan Lintang samudra Basar merupakan tokoh utama karena sering muncul pada cerita. Ia memiliki watak suka bekerja keras, berpandangan jauh dan bercita-cita tinggi. Muslimah Hafsari Hamid (Bu Mus) adalah seorang guru yang disenangi murid-muridnya, bijaksana, lemah lembut dan berhati mulia. Ia adalah tokoh utama yang berperilaku baik (protagonis) dan merupakan tokoh yang kompleks karakter. Sahara juga termasuk tokoh utama karena sering muncul dalam cerita. Ia memiliki sifat kuat pendirian, patuh menjalankan agama, ramah, pandai dan baik kepada semua orang.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karya sastra di Indonesia dewasa ini berkembang sangat pesat, salah satunya berbentuk novel. Yang meceritakan kehidupan bermasyrakat. Selesai membaca novel, kita mendapatkan kesan dan pesan tersendiri. Seolah-olah kita turut mengalami sendiri pengalaman dalam cerita tersebut (Ibrahim, 1987:182).
Andrea Hirata lahir di Belitung, dia penulis dari novel Laskar Pelangi. Endensor adalah novel ketiga setelah novel Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Ia amat menggemari ilmu sains dan juga sastra. Andrea berpendidikan ekonomi di Universitas Indonesia.
Dalam novel Laskar Pelangi mengangkat masalah kehidupan bermasyarakat, yaitu dunia pendidikan. Dalam novel ini diwarnai dengan cerita yang mengharukan tentang dunia pendidikan dengan tokoh-tokoh yang sederhana jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal dan takwa yang dituturkan secara indah dan cerdas. Novel Laskar Pelangi menunjukkan kepada kita bahwa pendidikan adalah memberikan hati kita kepada murid, tidak sekedar memberikan intruksi, tetapi juga memandang bahawa setiap anak memiliki potensi yang unggul dan tumbuh menjadi prestasi yang cermelang di masa depan. Buku ini ditulis dalam semanagt realis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat yang luar biasa dengan keadaan yang terbatas.
Pada prinsipnya struktur cerita tergantung pada penentuan tokoh utama. Tentu saja di samping tokoh utama diperlukan tokoh-tokoh tambahan lainnyua sebagai pelengkap (Tarigan, 1994:138). Penokohan sangat penting dikaji, karena dianggap penting dalam suatu karya sastra, maka penulis perlu untuk menganalisis tokoh-tokoh cerita yang ada salam novel Laskar Pelangi.
B. Identifikasi Masalah
Mengacu pada latar belakang masalah di atas, yang diidentifikasikan penulis sebagai berikut:
1. Tema dalam novel Laskar Pelanbgi
2. Setting dalam novel Laskar Pelangi
3. Plot dalam novel Laskar Pelangi
4. Tokoh dan penokohan
5. Sudut pandang
6. Gaya bahasa
7. Amanat
C. Batasan Masalah
Untuk membatasi permasalahan yang akan dianalisis dalam penelitian ini penulis membahas tentang tokoh dan penokohan dalm novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata agar mengahasilkan yang lebih spesifik.
D. Rumusan Masalah
Rumusan masalh dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimana tokoh dan penokohan tokoh utama novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?
2. Bagiamana tokoh dan penokohan tokoh pembantu novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah ;
1. Mendeskripsikan penokohan tokoh utama novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
2. Mendeskripsikan penokohan tokoh pemmbantu novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi :
1. Penulis, dengan menulis dan menganalisis studi ini penulis lebih memahami segala sesuatu yang berhubungan dengan sastra .
2. Pembaca, lebih memahami isi, tokoh dan penokohan dari novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Serta minat baca pada suatu karya sastra lebih berkembang.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Unsur-unsur Pembangun Novel
1. Unsur Intrinsik
a. Tema
Untuk menemukan makna pokok sebuah novel, kita perlu memiliki kejelasan pengertian tentang tema. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra. Tema mempunyai hubungan yang sangat erat dengan sebuah cerita karena menjadi inti dari permasalahannya.
b. Tokoh dan Penokohan
Penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh dalam cerita (Aminudin, 1987:79). Penokohan lebih mengarah pada cara penyajian watak tokoh dan penciptaan cerita.
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peritiwa dalam cerita (Sudjiman, 1988:16). Tokoh adalah tokoh yang diutamakan penceritanya dalam novel yang bersangkutan. Paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.
c. Plot atau Alur
Berdasarkan urutan waktu, alur dibedakan menjadi 3 yaitu alur maju , jika peristiwa yang diceritakan dimulai dari tahap awal berlanjut ke tahap konflik dan berakhir pada tahap penyelesaian. Alur mundur, bila peristiwa yang diceritakan dimulai bukan dari tahap awal melainkan dati tahap tengah atau akhir. Dan dikatakan alur campuran jika di dalamnya terdapat rangkaian cerita gabungan dari alur maju dan alur mundur.
d. Setting
Setting dalam suatu karya sastra sangat penting dari unbsur yang lainnya.Dari setting pembaca akan tahu dimana, kapan dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Terdapat setinng tempat dan setting waktu.
e. Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara pandang yang digunakan pengarang sebagai sarana menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi (Sutejo, 2002:43).
f. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas dalam penyusunan dan penyampaian pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan. Karena media seorang pengarang adalah bahasa.
g. Amanat
Amanat adalah sesuatu yang hendak disampaikan oleh pengarang yang dapat dipahami lewat tema rasa dan nada dari karya sastra yang bersangkutan.
2. Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangunan dan sistem organisme karya sastra (Burhanuddin, 1995:23). Jadi unsur ekstrinsik adalah semua yang membangun karya sastra dari faktor-faktor lain di luar unsur intrinsik.
B. Kerangka Pikir Penelitian
Salah satu karya sastra yang paling diminati oleh masyarakat saat ini adalah novel. Banyak yang kita pelajari dari membaca novel, karena banyak sekali cerita-cerita tentang kehidupan sehari-hari di masyarakat yang ditampilkan oleh para tokoh-tokoh di dalam novel.
Untuk mempelajari bagaimana suatu tokoh memerankan suatu karakter, kita perlu mengkaji dan mempelajari lebih banyak lagi tentang tokoh dan penokohan suatu karya sastra.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Objek Penelitian
Objek yang dijadikan penelitian ini adalah novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Data yang dihasilkan berupa kutipan-kutipan teks dari novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang menggambarkan karakter masing-masing tokoh.
B. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan atau menguraikan data-data dari objek permasalahn untuk memeroleh kesimpulan.
C. Teknik Kajian
1. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakuak beberapa tahap antara lain :
a. Menyusun rancangan penelitian
b. Menyusun landasan teori
c. Mengumpulkan data
d. Menulis laporan penelitian
2. Teknik Analisis Data
Langkah-langkjah penulis untuk memeroleh tokoh dan penokohan novel Laskar Pelangi sebagai berikut :
a. Membaca novel Laskar Pelangi
b. Memaparkan tokoh dan penokohan
c. Menganalisis tokoh dan penokohan
untuk BAB IV, V, VI cari sendiri . Ok
Cari Blog Ini
Selasa, 24 Mei 2011
Senin, 16 Mei 2011
Sabtu, 07 Mei 2011
Guru sebagai Komunikator
Dalam kegiatanpembelajaran, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Guru dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi anak didik. Dengan seperangkat teori dan pengalaman yang dimiliki, guru gunakan untuk bagaimana mempersiapkan program pembelajaran dengan baik dan sistematis. Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah, bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh, tapi nyata, dan memang betul-betul dipikirkan oleh seorang guru (Jamarah, 2006: 72).
Dalam penggunaan metode terkadang guru harus menyesuaikan dengan kondisi dan suasana kelas. Jumlah anak mempengeruhi penggunaan metode. Sebelum memilih metode, guru harus menentukan tujuan yang ingin dicapai pada materi ini. Dengan begitu, mudahlah bagi guru menentukan metode bagaimana yang dipilih guna menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Dengan demikian, setiap warga dituntut untuk terampil berbahasa. Bila setiap warga sudah terampil berbahasa, maka komunikasi antarwarga akan berlangsung dengan baik.
Komunikasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses penyampaian maksud pembicara kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran, gagasan, ide, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa, dan lain-lain. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata, kalimat, paragraf (komikasi tulis) atau paraton (komunikasi lisan), ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis, serta unsur-unsur prosodi (intonasi, nada, irama, tekanan, tempo) dalam bahasa lisan.
Dalam berkomunikasi tentu ada pihak yang berperan sebagai penyampai maksud dan penerima maksud. Agar komunikasi terjalin dengan baik, maka kedua pihak juga harus bisa bekerjasama dengan baik. Kerjasama yang baik itu dapat diciptakan dengan memperhatikan beberapa faktor, antara lain memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi, situasi, tempat, isi pembicaraan, dan media yang digunakan.
Selama ini kecenderungan komunikasi siswa dengan menggunakan performansi pergelaran musik karya seni kurang diperhatikan oleh siswa dikarenakan minimnya metode pembelajaran guru yang ditekankan pada kemampuan apresiasi siswa dengan menggunakan hasil karya yang baik dan benar. Hal ini diperburuk dengan semakin banyaknya tayangan televisi yang menggunakan bahasa desain komunikasi visual seperti iklan, yaitu penampilan seni yang sering digunakan dalam promosi.
Dampak yang paling parah adalah penayangan dalam volume tinggi daya apresiasi siswa rendah sehingga kompetensi dasar berapresiasi umumnya rendah pula.
Drill merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap apa yang telah dipelajari siswa sehingga memperoleh suatu keterampilan tertentu. Kata latihan mengandung arti bahwa sesuatu itu selalu diulang-ulang, akan tetapi bagaimanapun juga antara situasi belajar yang pertama dengan situasi belajar yang realistis, ia akan berusaha melatih keterampilannya. Bila situasi belajar itu diubah-ubah kondisinya sehingga menuntut respons yang berubah, maka keterampilan akan lebih disempurnakan.
Ada keterampilan yang dapat disempurnakan dalam jangka waktu yang pendek dan ada yang membutuhkan waktu cukup lama. Perlu diperhatikan latihan itu tidak diberikan begitu saja kepada siswa tanpa pengertian, jadi latihan itu didahului dengan pengertian dasar.
Dari definisi metode mengajar di atas, maka metode drill adalah suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari. Dengan demikian terbentuklah pengetahuan-siap atau ketrampilan-siap yang setiap saat siap untuk di pergunakan oleh yang bersangkutan.
Roestiyah NK. (1989: 125) mengatakan bahwa metode drill biasanya digunakan untuk tujuan agar siswa:
a. Memiliki kemampuan motoris/gerak, seperti menghafalkan kata-kata, menulis, mempergunakan alat.
b. Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan.
c. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan yang lain.
Hal-hal tersebut di atas dapat berhasil apabila siswa juga mengerti konteks keseluruhan dari akibat drill kegunaan bagi dirinya. Pakar pendidikan, Hover, mengatakan bahwa :
a. Pembelajaran itu sebenarnya efektif bagi masing masing siswa
b. Pembelajaran pada dasarnya adalah proses mengatasi masalah sehingga siswa ditegaskan agar dapat mencari hubungan akan sesuatu hal dengan drill sehingga ia dapat mencapai standar minimumnya sendiri untuk objek yang ia teliti dan guru hanya berperan sebagai fasilitator.
Drill sangat efektif karena dapat dikerjakan individu atau berkelompok, maupun kelompok besar dalam skala satu kelas. Jadi secara umum teknik mengajar drill ini biasanya digunakan untuk tujuan agar siswa:
a. Memiliki ketrampilan motoris/gerak; seperti menghafalkan kata-kata, menulis, mempergunakan alat/membuat suatu benda; melaksanakan gerak dalam olah raga;
b. Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan, mengurangi, menarik akar dalam hitung mencongak. Mengenal benda/bentuk dalam pelajaran matematika, ilmu pasti, ilmu kimia, tanda baca dan sebagainya.
Perkembangan bahasa di tingkat pemula ( bayi) dapat dianggap semacam persiapan berbicara.
a. Pada bulan-bulan pertama, bayi hanya pandai menangis. Dalam hal ini tangisan bayi dianggap sebagai pernyataan rasa tidak senang.
b. Kemudian ia menangis dengan cara yang berbeda-beda menurut maksud yang hendak dinyatakannya.
c. Selanjutnya ia mengeluarkan bunyi ( suara-suara ) yang banyak ragamnya. tetapi bunyi-bunyi itu belum mempunyai arti , hanya untuk melatih pernapasan saja.
d. Menjelang ussia pertengahan di tahu pertama, ia meniru suara-suara yang didengarkannya, kemudian mengulangi suara tersebut, tetapi bukan karna dia sudah mengerti apa yang dikatakan kepadanya.
Ada dua alasan mengapa bayi belum pandai berbicara: pertama, alat-alat bicaranya belum sempurna. Kedua, untuk dapat berbicara, ia memerlukan kemampuan berpikir yang belum dimiliki oleh anak bayi. Kemampuan berbicara dapat dikembangkan melalui belajar dan berkomunikasi dengan orang lain secara timbal balik.
Ditingkat pemula ( bayi ) tidak ada perbedaan perkembangan bahasa antara anak yang tuli dengan anak yang biasa. Anak tuli juga menyatakan perasaan tak senang dengan cara menangis. sedangkan rasa senangnya dinyatakan dengan berbagai macam suara raban, tetapi tingkat perkembangan bahasa yang selanjutnya tidak dialami olehnya. Ia tidak mampu mengulangi suara-suara rabannya dan suara orang lain. Jika ia nanti sudah besar, ia akan menjadi bisu.
Pada mulanya motif anak mempelajari bahasa adalah agar dapat memenuhi:
1. keinginan untuk memperoleh informasi tentang lingkungannya, diri sendiri, dan kawan-kawannya ini terlihat pada anak usia 2 setengah – 3 tahun.
2. Memberi perintah dan menyatakan kemauannya.
3. Pergaulan social dengan orang lain.
4. Menyatakan pendapat dan ide-idenya.
Dengan menghadapi berbagai problematika yang ada dalam proses pembelajaran khususnya dalam menghafalkan kata-kata maka perlu pemikiran yang tepat , agar dalam proses pembelajaran itu sendiri dapat berjalan dengan efektif. Disamping hal tersebut perlu dilakukan pengujian atas kebenaran yang menyangkut penggunaan metode yang tepat seperti latihan-latihan dalam penerapan sistem pembelajaran tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)