Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 10 Januari 2012

Nilai Pendidikan Dalam Novel Menyemai Cinta Di Negeri Sakura

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Sastra adalah karya sastra imajinatif bermedia yang nilai estetikanya bernilai dominan. Melalui karya sastra seorang pengarang bermaksud menyampaikan informasi, gambaran atau pesan tertentu kepada pembaca. Sesuatu yang disampaikan itu biasanya merupakan gagasan tentang kehidupan yang ada disekitar pengarang.
Novel juga sebagai salah satu bentuk karya sastra yang dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, melibatkan permasalahan yang lebih kompleks.
Bentuk-bentuk karya sastra itu biasanya berupa prosa, puisi dan drama, disebut sastra. Berdasar sejarah perkembangan sastra di Indonesia, prosa dikelompokkan menjadi dua yaitu prosa lama dan prosa baru, berupa cerpen dan novel. Semua karya sastra termasuk novel merupakan sesuatu totalitas yang memiliki nilai seni. Totalitas itu dibangun oleh unsur-unsur pembangun yaitu dari unsur intrinsik dan ekstrinsik.
Unsur intrinsik karya sastra yaitu unsur-unsur yang berada dalam karya sastra itu sendiri dan sebagai unsur pembangun dalam tubuh karya sastra itu.
Unsur intrinsik pada karya sastra meliputi tema, alur, penokohan, latar, suasana, gaya bahasa dan sudut pandang. Analisis struktural bertujuan memaparkan dengan cermat fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan. Analisis struktural merupakan hubungan antar unsur yang bersifat timbal balik, saling menentukan, mempengaruhi yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh. Membaca novel berupa nilai-nilai dalam hal ini adalah nilai pendidikan yang digunakan sebagai cermin atau perbandingan dalam kehidupan.
Pada dasarnya karya sastra merupakan karya cipta yang mengungkapkan kembali pengamatan dan pengalaman pengarang tentang peristiwa pada kehidupan yang menarik. Peristiwa-peristiwa itu merupakan peristiwa nyata atau mungkin hanya terjadi dalam dunia khayal pengarang. Sastra memiliki dunia sendiri. Suatu kehidupan yang tidak harus identik dengan kenyataan hidup.
Kesusastraan pada saat ini telah mengalami perkembangan yang pesat dan menggembirakan. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, sastra akan terus bergerak, tumbuh dan berkembang. Karya sastra adalah suatu hasil cipta manusia yang berdasarkan kenyataan dan diberi imajinasi pribadi lewat media lisan maupun tulisan.
Pada hakekatnya karya sastra mempunyai dua unsur pembangun yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur Intrinsik adalah unsur pembangun yang terdapat didalam karya sastra itu sendiri. Unsur Ekstrinsik adalah dunia luar karya sastra yang turut melatar belakangi dan menunjang lahirnya karya sastra.
Novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati menceritakan tentang seorang wanita yang tinggal di Jepang tepatnya di Nagoya. Dia selalu menjaga pendirian islamnya. Dia bernama Ummu S menikah dengan pria pilihannya yang bernama Joy. Berharap berkecukupan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun harapan itu hanyalah semu.
Selama di Nagoya dia berhasil menyebarkan agama islam pada warga Jepang yang minoritas islam itu. Mereka tertarik dengan ajaran Ummu S hingga semua anggota berhasil membuat wadah atau organisasi islamiyah di berbagai daerah di Nagoya. Ia pun mampu mengajak sang suami menjadi muslim. Anak-anaknya pun senang menggeluti kegiatan rohani.
Membaca novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” terlihat jelas bahwa meski berada jauh dari keluarga dan sanak saudara, berada di negeri yang individualis dan tidak mempedulikan agama, ia tetap menjaga islam dan mampu menarik masyarakat Nagoya untuk menjadi muslimin dan muslimah. Tetap rutin beribadah menjalankan perintah Allah meski suara adzan lirih terdengar, masyarakat yang hanya memikirkan karier dan segala sesuatu duniawiah saja.
Novel ini menitik beratkan pada aktivitas rohani, keteguhan seseorang terhadap agamanya yaitu islam.
1.2 Alasan Pemilihan Judul
Setiap orang melakukan kegiatan pasti mempunyai alasan-alasan tertentu sesuai dengan kegiatan yang dilakukannya. Demikian juga dengan judul yang dikemukakan dalam penulisan ini yakni :
1. Novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura memiliki hikmah bahwa meski berada di Negeri minoritas muslim, ia dapat mempertahankan dan menyebar islam dalam bentuk kegiatan muslim yang makin mempererat ukhuwah islam.
2. Mengetahui unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura dan mengambil kandungan nilai pendidikan didalamnya.
1.3 Tujuan Penulisan
Setiap kegiatan penulisan pasti mempunyai tujuan yang akan dicapai. Tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Untuk mendikripsikan unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati.
2. Untuk mengetahui nilai pendidikan dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati.
1.4 Pembatasan Masalah
Masalah-masalah yang diidentifikasikan penulis tidak dapat dibahas semua mengingat keterbatasan penulis dalam penulisan ini. Dalam penulisan ini hanya akan dibahas sebagai berikut :
1. Analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati.
2. Nilai pendidikan yang terdapat dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati.
1.5 Metode Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan. Data didapat dalam bentuk tulisan, maka harus dibaca, disimak, hal-hal yang penting dicatat, kemudian juga mengumpulkan dan mempelajari sumber tulisan yang dapat dijadikan acuan dalam hubungannya dengan obyek yang akan diteliti.
Hasil pemahaman yang berupa cuplikan-cuplikan dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura yang relevan dan diklasifikasikan sesuai dengan fungsinya. Untuk mengumpulkan data perlu menggunakan tehnik-tehnik yang tepat dengan data yang hendak dicari atau dikumpulkan dalam penulisan.
Adapun tehnik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah non interaktif, yaitu catatan dokumen yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1. Mencari sumber data dan mengumpulkan sumber data yang dapat digunakan sebagai pendukung penulisan.
2. Membaca dengan cermat dan teliti terhadap sumber data yang primer dan mencatat yang penting berdasarkan kelompok kelas kata.
3. Mengumpulkan data-data sekunder dari buku-buku referensi dan novel.
4. Merangkai teori dengan catatan sehingga menjadi perangkat yang harmonis yang siap sebagai landasan penulisan.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan atau renretan penulisan dari awal sampai akhir, tentang apa yang akan penulis teliti agar dapat dijadikan pedoman dalam pembahasan.
Secara rinci, laporan hasil penulisan ini dibagi menjadi 5 bab, yaitu :
- Bab I Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, alasan
pemilihan judul, tujuan penulisan, pembatasan masalah, metode
pengumpulan data dan sistematika penulisan.
- Bab II Landasan teori yang meliputi pengertian novel, unsur pembangun novel, dan nilai pendidikan dalam karya sastra.
- Bab III Pembahasan Masalah terdiri dari analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik novel serta sinopsis.
- Bab IV Penutup yang terdiri dari kesimpulan
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Sastra
Kata sastra dapat ditemukan diberbagai aspek dan konteks yang berbeda. Sastra merupakan istilah yang luas. Sastra dapat dipandang sebagai sesuatu hasil yang dapat dinikmati, sastra juga merupakan suatu yang erat hubungannya dengan ciri-ciri khusus suatu bangsa atau kelompok masyarakat.
Kata kesusastraan berasal dari bahasa sansekerta. Kata kesusastraan terbentuk dari kata susastra dan imbuhan ke-an. Sedangkan kesusastraan itu sendiri masih dapat dipecah lagi yaitu su dan sastra yang berarti tulisan atau karangan. Susastra berarti tulisan atau karangan yang indah dan baik, berimbuhan ke-an berarti segala hal atau sesuatu yang berhubungan dengan sastra. Kata kesusastraan dapat diartikan sebagai segala nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah.
Sastra adalah ciptaan manusia kedalam bentuk sastra, baik tulisan maupun lisan yang dapat menimbulkan rasa senang. Dalam Teory Of Literature karangan Rene Wellek dan Austin Werren dalam teori kesusastraan menyatakan ciri-ciri atau sifat-sifat kesusastraan antara lain: fiction (rekaan), imagination (daya angan) dan invention (daya cipta).
Dalam membaca dan memahami karya sastra kita selalu menghadapi keadaan yang paradoksal. Pada satu pihak sastra merupakan keseluruhan yang bulat, otonomi, disisi lain tidak berfungsi dalam situasi kosong.
Beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan tentang pengertian sastra. Sastra adalah karya imajinatif bermedia bahasa yang nilai atau unsur estetikanya dominan.
2.2 Pengertian Karya Sastra
Sesuatu yang disampaikan oleh sastrawan dalam karyanya adalah tentang manusia dengan segala macam perilakunya. Kehidupan manusia tersebut diungkapkan lengkap dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Oleh karena itu, karya sastra dapat menambah kekayaan batin setiap hidup dan kehidupan ini. Karya sastra mampu menjadikan manusia memahami dirinya dengan kemanusiaannya.
Setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini terkandung nilai atau hikmah yang dapat kita petik manfaatnya. Untuk dapat menangkap nilai-nilai tersebut diperlukan kepekaan dan kearifan. Bagi orang awam hal yang mungkin tidak dapat menjadi semangat berarti bagi pengarang. Sesuatu yang dianggap tidak berarti oleh masyarakat itu diolah oleh pengarang kemudian diwujudkan kembali dalam bentuk karya sastra.
Karya sastra memiliki fungsi ganda yaitu sebagai hiburan sedangkan disisi lain berusaha memberikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan.
Fungsi karya sastra bagi hidup dan kehidupan ke dalam lima kelompok, yaitu :
1. Fungsi Rekreatif yaitu karya sastra dapat memberikan rasa senang, gembira serta menghibur para pembaca.
2. Fungsi Estetis yaitu karya sastra itu indah, secara otomatis karya sastra akan memberi keindahan bagi penikmatnya.
3. Fungsi Didaktif yaitu karya sastra yang baik biasanya mampu mengarahkan dan mendidik para pembaca karena nilai-nilai kebenaran yang terkandung didalamnya.
4. Fungsi Moralitas artinya karya sastra yang baik biasanya selalu mengandung nilai-nilai moral yang tinggi. Dengan begitu pembaca akan tahu bagaimana moral yang baik dan buruk bagi dirinya.
5. Fungsi Religiusitas yaitu karya sastra mengandung ajaran-ajaran agama yang harus dan wajib diteladani oleh para penikmatnya.
Sasaran karya sastra bukanlah pikiran penikmat, melainkan perasaan. Karya sastra tidak bermaksud agar penikmat tahu yang dikomunikasikan, melainkan mengajak apa yang dirasakan pengarang.
Karya sastra merupakan kehidupan buatan atau rekaan sastrawan. Kehidupan di dalam karya sastra adalah kehidupan yang telah diwarnai dengan sikap penulisnya, latar belakang pendidikannya, keyakinannya, dan sebagainya.
Karya sastra merupakan wujud ungkapan perasaan pengarang. Jika dilihat dari sifatnya, sastra merupakan karangan fiksi atau non ilmiah. Seperti juga karangan lain, karya sastra dibuat pengarang dengan maksud untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada pembacanya. Hanya karena sifat dasarnya yang berbeda dengan karangan lain, maka sesuatu yang dikomunikasikan tersebut juga berbeda. Macam karya sastra antara lain :
1. Novel
Istilah tentang novel antara Negara satu dengan Negara lain beragam. Dalam Bahasa jerman disebut Novelle. Sedangkan dlam bahasa perancis disebut Nouvelle. Kedua istilah tersebut dipakai dalam pengertian yang sama yaitu prosa yang agak panjang dan sederhana karena hanya menceritakan maksud kejadian yang memunculkan suatu konflik yang mengakibatkan adanya perubahan nasib pelakunya.
Beberapa pendapat mengenai novel dikemukakan oleh para ahli sastra. Namun sampai saat ini belum ada patokan yang dapat diterima oleh semua pihak.
Novel dalam arti umum berarti cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas yaitu cerita dengan plot dan tema yang kompleks, karakter yang banyak dan setting cerita yang beragam. Novel merenungkan dan melukiskan realitas yang dilihat, dirasakan dalam bentuk tertentu dengan pengaruh tertentu atau ikatan yang dihubungkan dengan tercapainya gerak-gerik hasrat manusia.
Novel memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Menceritakan sebagian kehidupan yang luar biasa
2. Terjadinya konflik hingga menimbulkan perubahan nasib
3. Terdapat beberapa alur atau jalan cerita
4. Terdapat beberapa insiden yang mempengaruhi jalan cerita
5. Perwatakan atau penokohan dilukiskan secara mendalam
Novel ialah suatu cerita dengan alur panjang mengisi satu buku atau lebih yang Mengarang kehidupan manusia yang bersifat imajinatif The Advanced Meaner Of Current English, menceritakan kehidupan manusia hingga terjadinya konflik yang dapat menyebabkan perubahan nasib bagi para pelakunya.
Manfaat dari membaca novel adalah memberi kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup ini. Selain itu dapat memberikan kegembiraan dan kepuasan batin, memberikan penghayatan yang mendalam terhadap apa yang kita ketahui, serta dapat menolong pembacanya menjadi manusia yang berbudaya. Hasil cipta sastra akan selalu berbicara masalah manusia dengan segala permasalahan hidupnya, baik hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya maupun manusia dengan penciptaNya.
Hasil karya sastra novel mengandung keindahan yang dapat menimbulkan rasa senang, nikmat, terharu, menarik perhatian, menyegarkan perasaan pembaca, pengalaman jiwa yang terdapat dalam karya sastra memperkaya kehidupan batin manusia khususnya pembaca.
2. Cerpen
Cerpen mengalami perkembangan yang sangat pesat ketika masa penjajahan jepang. Pada masa itu segala sesuatu dituntut serba singkat dan cepat. Karena pengaruh suasana, maka dalam mengutarakan perasaannya pengarang juga mengikuti keadaan. Pengarang mengutarakan segala sesuatu secara singkat dan memilih medianya yaitu bentuk cerpen.
Cerpen singkatan dari cerita pendek. Oleh karena itu bentuknya yang pendek, maka yang ditampilkan oleh cerpen hanyalah sebagian saja dari kehidupan yang dialami oleh tokoh cerita.
Sebuah cerpen pada dasarnya menuntut adanya perwatakan yang jelas. Tokoh merupakan pusat sorotan dalam cerita. Unsur penokohan dalam cerpen terasa lebih dominan, daripada unsur yang lain. Dengan membaca cerpen seorang pembaca akan memahami karakter tokoh cerita yang dimiliki. Jadi, membaca cerpen tidak sekedar mengetahui jalan cerita tetapi mengetahui manusia dengan sifat-sifatnya.
Suatu hasil sastra dapat dikategorikan ke dalam cerita pendek harus dilihat dari ruang lingkup permasalahan yang ditampilkan dalam karya sastra tersebut. Biasanya cerpen hanya akan menampilkan suatu pokok permasalahan saja dalam cerita. Karena permasalahan yang ditampilkan hanya satu atau permasalahannya tunggal, maka tidak memungkinkan tumbuhnya digresi dalam cerita pendek. Cerpen yaitu kisahan yang memberi kesan tunggal yang dominant tentang suatu tokoh dalam latar dan satu situasi dramatik.
Predikat pendek pada kata cerita pendek bukan ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudkan cerita itu atau sedikitnya tokoh yang terdapat dalam cerita itu, melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra tersebut. Jadi, sebuah cerita pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek apabila ruang lingkup permasalahan yang persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa cerpen hanya menceritakan permasalahan tunggal. Mengenai jumlah halaman tidak akan berpengaruh banyak terhadap jenis karya sastra ini. Cerita yang pendek belum tentu cerita pendek dan cerita agak panjang pun kadang-kadang dapat dikategorikan sebagai cerpen jika permasalahannya tunggal. Oleh karena permasalahannya tunggal, maka cerpen cenderung pendek.
Perbedaan antara Novel dan Cerpen :
Novel : Terjadi konflik batin
Cerpen : Tidak harus terjadi
Novel : Perwatakan digambarkan secara detail
Cerpen : Perwatakan digambarkan secara singkat
Novel : Alur lebih rumit
Cerpen : Akhir ceritanya sederhana
Novel : Latar lebih luas dan waktunya lebih lama
Cerpen : Latar hanya sebentar dan terbatas
Novel : Novel lebih panjang karangannya daripada cerpen
Cerpen lebih pendek karangannya
Novel : Unsur-unsur cerita dalam novel lebih kompleks dan beragam dibandingkan cerpen
Cerpen : Unsur cerita dalam cerpen relative sederhana dan pasti tunggal
Novel : Novel minimal halamannya adalah 100 halaman
Cerpen : Cerpen halaman maksimal 30 kuarto
Novel : Jumlah kata dalam novel minimal 35.000 kata
Cerpen : Jumlah kata dalam cerpen maksimal 10.000 kata
Novel : Lama untuk membaca novel kira-kira 30-90 menit
Cerpen : Waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen hanya 10 menit
Persamaan antara Novel dan Cerpen :
1. Keduanya sama-sama prosa baru
2. Mengandung unsur intrinsik
3. Sama-sama termasuk karya sastra
4. Sama-sama termasuk cerita fiksi
3. Puisi
Puisi yaitu salah satu bentuk/ ragam sastra yang diwujudkan dengan kata-kata/bahasa yang indah dan padat yang mengandung nilai-nilai.
Jika dilihat dari isinya puisi terdiri atas berbagai macam diantaranya yaitu Elegi, Balada dan Ode. Jika dilihat berdasarkan zamannya, puisi dikelompokkan menjadi 3 yaitu puisi lama, puisi baru dan puisi modern.
Puisi lama biasanya masih sangat mementingkan masalah rima, irama dan aturan-aturan yang lain. Yang termasuk puisi lama yaitu syair, pantun, gurindam dan seloka. Puisi baru sudah mulai meninggalkan aturan-aturan dalam puisi lama. Hanya saja
dalam puisi baru masih memperhatikan jumlah baris dalam tiap baitnya. Karya sastra puisi baru antara lain: distikon, tersina, kuartren dan sebagainya.
Puisi modern sudah jelas dari segala aturan seperti yang mengikat pada puisi lama. Puisi modern biasanya mengutamakan isi daripada bentuknya. Misalnya rima, irama dan yang lainnya menjadi aturan dalam puisi lama tidak lagi diperhatikan dalam penyusunan puisi modern. Meskipun dalam puisi modern telah bebas dari segala aturan seperti yang mengikat pada puisi lama. Tetapi ia tetap berbentuk puisi yang memiliki perbedaan dengan karya sastra yang lain. Karya sastra puisi tetap menggunakan bahasa yang singkat dan padat.
BAB III
PEMBAHASAN MASALAH
3.1 Analisis Unsur Intrinsik Novel
3.1.1 Alur/ Plot
Alur adalah penceritaan rentetan peristiwa yang penekanannya ditumpukan kepada sebab-akibat. Untuk merangkai peristiwa-peristiwa menjadi kesatuan yang utuh, pengarang harus menyeleksi kejadian mana yang perlu dikaitkan serta mana yang kiranya harus dipenggal ditengah-tengah. Hal yang demikian berguna untuk lebih menghidupkan cerita menjadi menarik sehingga pembaca berambisi terus untuk menekuninya.
Alur dalam cerita kadang sulit untuk dicari karena tersembunyi dibalik jalan cerita. Namun, jalan cerita bukanlah alur. Jalan cerita hanyalah manifestasi bentuk wadah, bentuk jasmaniah dari alur cerita. Dengan mengikuti jalan cerita maka dapat ditemukan alur.
Alur bisa dengan jalan progresif (alur maju) yaitu dari awal, tengah, dan akhir terjadinya peristiwa. Tahap progresif bersifat linier. Jalan regresif (alur mundur) yaitu bertolak dari akhir cerita, menuju tahap tengah atau puncak dan berakhir pada tahap awal. Tahap regresif bersifat non linier. Ada juga tehnik pengaluran flash back (sorot balik) yaitu tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Flash back mengubah tehnik pengaluran dari progresif ke regresif. Selain yang tersebut diatas ada juga tehnik alur yang lain yaitu tehnik tarik balik (back tracking) yang dalam tahap tertentu peristiwa ditarik ke belakang.
Alur adalah sambung-sinambungnya peristiwa berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting ialah menjelaskan mengapa hal itu terjadi, dengan sambung-sinambungnya peristiwa ini terjadilah sebuah cerita. Sebuah cerita bermula dan berakhir. Antara awal dan akhir ini lah terlaksana alur itu. Tentu sudah jelas, alur itu mempunyai pula bagian-bagiannya yang sederhana dapat dikenal sebagai permulaan, pertikaian dan akhir.
Walaupun cerita rekaan berbagai macam contoh, ada pola-pola tertentu yang hampir selalu terdapat dalam sebuah cerita rekaan, yang disebut struktur umum alur, yang digambarkan sebagai berikut :
1. paparan (exposition)
Awal 2. rangsangan (inciting moment)
3. gawatan (rising action)
4. tikaian (conflict)
Tengah 5. rumitan (complication)
6. klimaks (climax)
7. leraian (falling action)
Akhir 8. selesaian (denouement)
Berdasarkan teknik pengaluran, novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura menggunakan alur sorot balik (flash back), yaitu urutan tahapannya dibalik seperti regresif. Sorot balik dapat terlihat dalam kutipan berikut :
“Hari itu aku pergi berbelanja ke Supermarket yang agak jauh dari rumahku….” (Lizsa, 2007 :166).
“Kejadian itu telah berlalu beberapa tahun, tetapi masih membekas kuat dalam ingatan. Karena aku tak tahu mengapa pertanyaan seperti itu terlontar. Hingga kini ku tak tahu jawabnya….” (Lizsa, 2007 :190).
3.1.2 Penokohan/ Perwatakan/ Karakter
Penokohan merupakan proses yang digunakan pengarang untuk menciptakan tokoh-tokoh pelaku cerita serta sifat atau gambaran yang berkenaan dengannya.
Tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peran yang berbeda-beda.
Menurut fungsinya, tokoh dibagi menjadi 3 yaitu :
Tokoh Sentral yaitu tokoh yang menentukan gerak dalam suatu cerita.
Tokoh Utama yaitu tokoh yang mendukung suatu cerita baik tokoh protagonis maupun antagonis.
Tokoh Pembantu yaitu tokoh yang hanya berfungsi melengkapi terjadinya suatu cerita.
Menurut perannya, tokoh dibagi menjadi 3 yaitu :
Tokoh Protagonis yaitu pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga disenangi pembaca.
Tokoh Antagonis adalah pelaku yang tidak disenangi pembaca karena memiliki watak yang tidak sesuai dengan apa yang diidamkan oleh pembaca.
Tokoh Tritagonis adalah pelaku yang membantu dalam suatu cerita, baik tokoh protagonis maupun antagonis.
Penyajian watak dan tokoh serta penciptaan citra tokoh terdapat beberapa metode, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Ada kalanya Pengarang melalui penceritaan mengusahakan sifat-sifat tokoh, pikiran, hasrat dan perasaannya. Kadang menyisipkan komentar pernyataan setuju tidaknya akan sifat-sifat tokoh itu.
Secara garis besar dapat mengenal watak para tokoh dalam sebuah cerita yaitu melalui apa yang diperbuatnya melalui ucapan-ucapannya, melalui penggambaran fisik seorang tokoh, melalui pikiran-pikirannya dan melalui penerangan langsung dari pengarang.
Penokohan adalah penampilan watak atau karakter para tokoh oleh pengarang.
Penampilan watak yang dilakukan oleh pengarang ada tiga macam cara yaitu :
Cara Analitik yaitu pengarang secara langsung memaparkan watak tokoh-tokohnya. Misalnya, pengarang menyebutkan watak tokoh yang pemarah, otoriter, sombong, kasar, dan sebagainya.
Cara Dramatik yaitu watak tokoh dapat disimpulkan dari pikiran, cakapan, perilaku tokoh, bahkan penampilan fisik, lingkungan atau tempat tokoh, cara berpakaian dan pilihan nama tokoh, dan sebagainya.
Cara Campuran yaitu gambaran watak tokoh menggunakan cara Analitik dan Dramatik secara bergantian.
Dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”, cara yang digunakan pengarang untuk menampilkan watak tokoh dalam ceritanya, menggunakan cara Analitik. Pengarang memaparkan watak tokoh-tokohnya yang ditunjukkan pada kutipan berikut ini :
“Joy, seorang suami yang otoriter (perintah yang mutlak tidak boleh dilanggar). Namun, disisi lain sebenarnya ia sangat menyayangi istrinya yaitu Ummu S.” ( Lizsa, 2007 :17).
“Ummu S, istri Konsulat Bosnia. Lahir dan besar sebagai seorang muslim. Namun, tergerak hati untuk belajar agama di usia senja. Ia seorang ibu rumah tangga, sabar dan pengalah.” (Lizsa, 2007 :15)
“Saya percaya, galaknya mertua, cerewetnya mertua atau cap miring apalah yang ada pada mertua, tidak lebih semata-mata karena mereka pun adalah manusia. Hamba Allah yang tak lepas dari sifat baik dan buruk. Namun ada kalanya ibu mertua seperti sahabat yang bisa diajak curhat. Kalaupun ada pergesekan,saya anggap hal yang wajar tak perlu dimasukkan dalam hati.” (Lizsa, 2007: 68-69).
Berdasarkan fungsinya, tokoh dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” menampilkan tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh utama yang protagonis adalah Ummu S, semenjak dalam perantauan negeri Sakura, Nagoya yang individualis, seorang suami yang otoriter. Namun ia tetap tegar dan tabah. Yang akhirnya ia berhasil menarik warga masyarakat Nagoya untuk mengenal islam. Hingga semua berhasil membangun organisasi islamiah di berbagai daerah. Anak-anaknya pun ikut serta menggeluti islam serta suaminya pun mau untuk beragama islam dan berubah menjadi sosok yang penyayang.
Tokoh Antagonis adalah Joy suami Ummu S sendiri. Ia tidak setuju dengan agama yang dianut Ummu S yaitu Islam. Dia berusaha mempengaruhi Ummu S untuk melepas jilbab kemana pun ia pergi. Akan tetapi Ummu S mampu mengelak dengan berbagai akal untuk menjawabnya. Pernyataan tersebut terdapat dalam kutipan dibawah ini :
“Sudah. Lepas aja tutup kepalanya itu…”katanya. (Lizsa, 2007: 106)
“Kalau bisa, jangan pakai itu, kata suamiku kedua kalinya. Liat tuh di TV, orang Islam ngebom Inggris,” katanya pula. Dia masih mencoba menggoncangkan kemantapan hatiku….” (Lizsa, 2007: 107)
Tokoh bawaannya yaitu Kiki, Yosh, Chi-chi, Mertua Ummu S, Shota dan Takahashi. Disebut tokoh bawaan karena kemunculannya berfungsi untuk mendukung tokoh utama, walaupun sebagian ada hubungannya dengan tokoh utama. Dilihat dari cara menampilkan tokoh, dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”menggunakan tokoh bulat. Pengarang menampilkan tokoh protagonist Ummu S selain menyoroti sifat baik, sabar, tabah, rajin sembahyang dan penolong, juga menyoroti sifatyang tidak baik, tidak mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepadanya.
3.1.3 Latar/ Setting
Latar adalah tempat suatu peristiwa dalam cerita yang bersifat fisikal biasanya berupa waktu, tempat dan ruang. Termasuk didalam unsur latar adalah waktu, hari, tahun, periode sejarah, dan lain-lain.
Latar cerita mencakup kerengan-keterangan mengenai keadaan sosial dan tempat dimana peristiwa itu terjadi.
Fungsi latar selain memberi ruang gerak pada tokoh juga berfungsi untuk menghidupkan cerita. Dalam latar ini, pengarang menampilkan tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa yang selain berkaitan untuk membangun cerita yang utuh.
Kemunculan latar dalam cerita disebabkan adanya peristiwa, kejadian, juga adanya tokoh. Tokoh dan peristiwa membutuhkan tempat berpijak, membutuhkan keadaan untuk menunjukkan kehadirannya.
Latar dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”meliputi aspek waktu, ruang dan suasana.
1. Waktu
Novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” menggunakan istilah waktu dalam cerita seperti pagi, sore, malam, sekian hari, sekian minggu, sekian bulan dan sebagainya. Terlihat dalam kutipan berikut :
“Dua minggu kebelakang saya mendapat kabar gembira dari seorang sahabat melalui telepon.” (Lizsa, 2007: 16)
“…..Kejadian tersebut telah berlalu lewat dari 10 tahun. Meski kini tak pernah lagi mengejar bus jurusan ini. Namun peristiwanya masih lekat dibenak.” (Lizsa, 2007: 43)
2. Tempat
Tempat yang digunakan dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”di Negara Jepang tepatnya di Nagoya. Tempat tinggal Ummu S setelah menikah dengan Joy. Terlihat dalam kutipan berikut :
“Di Nagoya tempat tinggal saya ada kegiatan pengajian keluarga yang dilaksanakan tiap hari ahad pekan ke dua”. (Lizsa, 2007: 192)
3. Suasana
Suasana yang tergambar dalam novel ini adalah suasana kota Nagoya yang Individualis. Negara sekuler yang tak peduli akan keberadaan agama. Kehidupan bebas, hedonisme, serta mementingkan karier duniawiah saja.
3.1.4 Gaya bahasa
Bahasa dalam karya sastra mempunyai fungsi ganda. Ia tidak hanya sebagai alat penyampaian maksud pengarang, melainkan juga sebagai penyampaian perasaan. Pengarang dalam menyampaikan tujuannya dapat menggunakan cara-cara lain yang tidak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Cara-cara tersebut misalnya dengan menggunakan perbandingan-perbandingan, menghidupkan benda-benda mati, melukiskan sesuatu keadaan dan menggunakan gaya bahasa yang berlebihan.
Usaha atau tindakan yang dilakukan sastrawan agar pendengar atau pembaca tertarik dan terpengaruh oleh gagasan yang disampaikan melalui tuturnya dengan pemilihan bahasa, pemakaian ulasan, dan pemanfaatan gaya bertutur Bahasa dalam novel ini menggunakan bahasa tak baku. Bahasa yang tidak sesuai dengan EYD. Terdapat dalam kutipan berikut :
“Nggak….nggak suka ah,”kata Kiki dengan wajah tak suka. (Lizsa, 2007:130)
“Ah….masih agak sepi, nih,” batinku senang. (Lizsa, 2007: 119)
Sementara gaya bahasa antara lain meliputi :
Personifikasi
Perbandingan Metafora
Alegori
Perumpamaan
Majas Hiperbola
Pertentangan Ironi
Litotes
Metonimia
Pertautan Alusio
Eufimisme
Sinekdok
Parsprototo Totemproparte
Serta menggunakan gaya bahasa personifikasi yaitu membandingkan benda yang tercantum dalam kutipan berikut :
“….suara hati yang satu makin menonjolkan dorongannya.”
“Tapi aku ragu, dan sedikit takut kalau nanti tak berjalan lancar….,” bisik hati yang lain. (Lizsa, 2007: 118)
3.1.5 Amanat
Amanat adalah suatu ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang. Amanat dipakai pengarang untuk menyampaikan tanggung jawab problem yang dihadapi pengarang lewat karya sastra. Amanat merupakan pesan atau gagasan yang mendasar yang dituangkan pengarang dalam karyanya untuk memecahkan peristiwa yang terjadi.
Istilah amanat berarti pesan. Amanat cerita merupakan pesan pengarang kepada pembaca atau publiknya. Pesan yang hendak disampaikan mungkin tersurat. Tetapi mungkin juga tidak jelas, samara-samar atau tersirat.
Amanat yang terdapat dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” adalah :
“Hendaknya seseorang bersabar dalam segala hal menghadapi cobaan hidup, tetap mempertahankan islam diri di Negara yang minoritas Islam, hura-hura, hedonisme dan sebagainya. Dan setidaknya kita mampu mengajak non muslim atau orang-orang tak beragama untuk bergabung masuk islam dengan teknik pengajaran yang menarik.”
Inilah amanat yang dapat penulis ambil dari novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati yang diambil secara tersirat.
3.1.6 Tema
Pengarang dalam menulis ceritanya bukan sekedar mau bercerita tetapi mau mengatakan suatu hal pada pembacanya. Sesuatu yang ingin dikatakan itu bila suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya tentang kehidupan ini atau karakter terhadap kehidupan ini. Kejadian dan perbuatan tokoh cerita, semua didasari oleh ide dari pengarang.
Berdasarkan keterangan diatas dan dengan membaca novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati mengisahkan pelaku utama yaitu Ummu S atau Mrs A, dengan segala permasalahan yang dihadapi maka akan ditemukan ide dasar cerita atau tema yang terkandung didalam karya sastra tersebut.
Adapun tema dari novel ini ialah keteguhan hati dan pendirian agama dalam negeri perantauan.
3.1.7 Sudut Pandang/ Point Of View
Sudut Pandang ialah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan. Sudut Pandang merupakan hasil karya seorang pengarang sehingga terdapat pertalian yang erat antara pengarang dengan karyanya.
Sudut Pandang/ Point Of View menyarankan pada cara sebuah cerita kisahan. Ia merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Pusat pengisahan meliputi : narrator omniscient,narrator observer, narrator observer omniscient, serta narrator the third person omniscient.
Sudut Pandang cerita itu sendiri secara garis besar dapat dibedakan ke dalam 2 macam : persona pertama, gaya “aku”, dan persona ketiga, gaya “dia”.
Pusat pengisahan adalah posisi dan penempatan diri pengarang dalam cerita, atau darimana dia melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita itu.
Lizsa Anggraeny dan Seriyawati menceritakan para pelaku dalam novel adalah pengarang sebagai orang pertama dengan kata aku atau –ku untuk tokoh utama. Dapat dilihat dalam kutipan berikut :
“Aku menguatkan diri sendiri dengan menceramahi diri, mengolok diri dan mempertanyakan langkah-langkahku selama ini.” ( Lizsa, 2007: 109)
“Disinilah, cintaku bersemi dan makin mekar kepadaNya. Yang kuharap hanyalah cintaNya.” (Lizsa, 2007: 109)
3.2 Analisis Unsur Ekstrinsik Novel
Dalam karya sastra, nilai-nilai pendidikan yang disampaikan penciptaannya dimuat didalamnya. Hasil karya sastra, pengarang tidak hanya ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya saja tetapi secara implisit juga mempunyai maksud dorongan, mempengaruhi pembaca untuk memahami, menghayati dan menyadari masalah serta ide yang diungkapan termasuk nilai-nilai pendidikan yang terdapat didalam karya sastra tersebut. Pembaca bisa mengambil nilai-nilai pendidikan yang terdapat didalamnya.
Pembaca karya sastra bisa mengambil pelajaran serta hikmah, nilai-nilai dan contoh-contoh dari karya sastra yang dibacanya dengan penuh kesadaran sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan dan pengajaran sastra jika ditangani dengan bijaksana, akan membawa kita dan anak-anak didik ke dalam kontak dengan pikiran-pikiran dan kepribadian-kepribadian besar dunia. Para pendidik dan pemikir besar dari berbagai zaman.
Unsur kepribadian dapat dilatih melalui pendidikan dan pengajaran sastra, meliputi :
1. Penginderaan (Sensory)
Dalam pengambangan aspek ini studi sastra dapat digunakan untuk memperluas jangkauan dari semua unsure penginderaan klasik yaitu pengliatan, pedengaran pengecap, pembau, sentuhan, perabaan, pembeban.
2. Kecerdasan (intellect)
Bentuk pendidikan yang paling bernilai adalah yang telah mengajarkan para siswa untuk memecahkan masalah bagaimana memperoleh kebenaran-kebenaran yang memungkinkan. Untuk dapat menguji derajat atau peringkat keberhasilannya. Adapun sastra mengandung hal-hal yang menjadi tuntutan dalam dunia pendidikan tersebut.
3. Perasaan (feel)
Sastra memberikan kepada kita sesuatu cakupan situasi dan kegawatan yang luas yang seakan-akan menstimulasi beberapa jenis respondensi emosional dan juga bahwa dalam keseluruhannya penulis sastra lazim menyajikan situasi-situasi itu dalam cara-cara yang memungkinkan kita untuk mengeksplorasi, mengkaji dalam perasaan kita dalam suatu cara kemanusiaan yang layak.
4. Kesadaran Sosial
Sastra berfungsi menghasilkan suatu kesadaran konprehensip terhadap orang lain. Penulis-penulis sastra modern, termasuk penulis sastra Indonesia, telah banyak berbuat untuk merangsang minat dan simpati pada masalah-masalah kegagalan, ketidak beruntungan, ketertindasan, ketidakberhasilan, pengucilan. Rasa hina dan sakit hati, yaitu mereka yang memerlukan protes.
5. Kesadaran Religius
Baik suka maupun tidak suka, apakah kita tahu betul atau tidak, segala pikiran dan perbuatan kita secara rutin didasarkan beberapa asumsi positif dan semua kecerdasan manusia pada abad ini, termasuk manusia Indonesia akan selalu didasarkan pada pragmatisme kehidupan mereka yang lebih daripada diatas landasan rohaniah atau spiritual yang rapuh.
Berdasarkan uraian diatas, nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”dapat dikaji dan dianalisis.
Unsur Ekstrinsik novel adalah unsur yang berasal dari luar cerita. Meliputi nilai religi, nilai susila atau nilai estetika serta nilai sosial dan sebagainya.
Karya sastra mengandung nilai-nilai pendidikan yang tergantung pada pengertian yang didapat pembaca lewat karya sastra yang dipahami. Nilai-nilai pendidikan tersebut didapat dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” meliputi :
1. Nilai Religi/ Nilai Agama
Agama adalah risalah yang disampaikan Allah kepada Nabi sebagai petunjuk bagi manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dan tanggung jawab kepada Allah, dirinya sebagai hamba Allah, manusia dan masyarakat serta alam sekitarnya.
Agama dan pandangan hidup kebanyakan orang menekankan kepada ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan serta sikap menerima terhadap apa yang terjadi. Pandangan hidup yang demikian jelas memperhatikan bahwa apa yang dicari adalah kebahagiaan jiwa, sebab agama adalah pakaian hati, batin atau jiwa. Kesadaran religius dalam upaya mengembangkan kepribadian melalui pendidikan dan pengajaran.
Nilai religius dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” antara lain :
Salah satu keindahan itu adalah saya semakin menghargai gaungan gema adzan. Ketika masih berada ditanah air, dimana suara adzan sangat mudah di dengar.
Di bulan Ramadhan amalan sunnah dihitung sebagai amalan fardlu diberi ganjaran 700X lipat. Puasa fisabilillah akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 tahun. Puasa Ramadhan akan memberi syafaat di yaumil akhir.
Terbukanya pintu surga Al-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa. Juga menghapus dosa-dosa yang lalu. (Lizsa, 2007: 188)
Kegiatan para tokoh memberi nilai religius dapat terlihat dalam kutipan berikut:
…..Allah membimbingnya untuk datang ke sebuah pengajian keliling di daerahnya….(Lizsa, 2007: 17-18)
Di Nagoya kota tempat tinggal saya ada kegiatan pengajian keluarga yang dilaksanakan tiap hari ahad pekan kedua. Acara itu diadakan dirumah salah satu keluarga secara bergantian tiap bulannya. (Lizsa, 2007: 192)
2. Nilai Estetika
Semua karya sastra atau karya seni memiliki keindahan apabila terdapat keutuhan antara bentuk dan isi, keseimbangan dan keserasian penampilan dari karya seni yang lain. Nilai keindahan akan tampak lebih relatif, jika yang kita perhatikan adalah penilaian atau penghargaan terhadap sastra itu.
Sastra sebagai cabang seni akan melengkapi sentuhan estetis dengan mengembangkan aspek rasa ini demi sempurnanya aspek keindahan dalam sastra, yang dihubungkan dengan tehnik cerita, gaya bahasa, unsur-unsur yang lain sebagai variasinya. Nilai estetika adalah nilai kesopanan dan budi pekerti atau akhlak. Nilai susila adalah yang berkenan dengan tata krama atau disebut beradab.
Nilai susila atau estetika dapat terlihat dalam kutipan berikut :
“Saya mendengar itu hanya bisa ikut tersenyum geli. Tapi tidak demikian dengan ibu dari sang anak tersebut. Mimik sang ibu terlihat kaget. Ia langsung mendekati saya dan berkata,” Maaf…maafkan anak saya…maaf ,”ujar sang ibu.
Bagi setiap orang yang melakukan suatu kesalahan hendaknya segera mengucap maaf, itu adalah cara berperilaku yang baik. Terdapat kata membungkukkan badan, bagi orang Indonesia terutama Jawa itu menunjukkan sikap yang sopan dan menghormati orang lain.
3. Nilai Sosial
Keadaan seseorang sebagai individu tidak terlalu penting. Tetapi individu ini secara bersama membantu masyarakat yang selaras akan menjamin kehidupan yang lebih baik bagi masing-masing individu. Manusia tidak bisa lepas hidup sendiri terpisah dari yang lainnya. Lebih-lebih bila seseorang belum mampu menyelesaikan kebutuhan jasmaninya sendiri walaupun itu yang paling sederhana, seperti seorang anak kecil yang belum mampu mengerjakan sendiri
untuk mencukupi kebutuhannya seperti misalnya mandi, makan, berpakaian, dan sebagainya tanpa bantuan orang lain baik itu ayah, ibu maupun kakaknya.
Dalam novel ini banyak terlihat interaksi sosial yang terjadi. Antara lain : suasana kebersamaan, saling membantu, menghargai, menghormati dan menyayangi satu sama lain dalam mengerjakan sesuatu akan menghasilkan hal positif. Hal inilah yang dinamakan nilai kerukunan atau nilai sosial.
Manusia perlu dihargai, dihormati dan diperlakukan secara layak. Sudah sepantasnya kita menghargai jerih payah dan keinginannya untuk membantu tugas rumah tangga meski tanpa adanya limitasi pekerjaan. (Lizsa, 2007: 74)
4. Nilai Moral
Moral merupakan tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari nilai baik-buruk, benar dan salah berdasarkan adapt kebiasaan dimana individu itu berada.
Pesan-pesan moral yang terdapat pada novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” ini bisa diambil setelah membaca dan memahami isi ceritanya. Penulis menemukan segi positif dan negatifnya. Kedua hal itu perlu disampaikan, sebab kita dapat memperoleh banyak teladan yang bermanfaat. Segi positif harus ditonjolkan sebagai hal yang patut ditiru dan diteladani. Demikian segi negatif perlu juga diketahui serta disampaikan kepada pembaca. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak tersesat, bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Seperti halnya orang belajar. Ia akan berusaha untuk bertindak lebih baik jika tidak tahu hal-hal yang buruk dan tidak pantas dilakukan.
Nilai Moral dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura, Jadilah seseorang yang menyemai cinta pada-Nya meski berada dalam perantauan.
3.3 Sinopsis
Cerita menggambarkan tentang kehidupan Mrs A atau Ummu S, hidup di negeri Sakura dengan keislamannya. Menikah dengan pria pilihannya dengan harapan hidup berkecukupan dan bahagia. Namun, ternyata kebahagiaan itu hanya semu. Istri identik dengan pembantu bagi suami. Perlakuan kasar secara fisik/ melalui ucapan yang melukai hati. Sering terlontar dari laki-laki yang menjadi Qawwam baginya. Perintah-perintah otoriter yang mutlak tak dapat dilanggar. Lemahnya iman dan tak kuatnya dasar pijakan Ruhiyah, menyebabkan dia terombang ambing dalam kehidupan.
Ia seorang ibu rumah tangga, yang dianggap remeh ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Melewati tahun pernikahan ke-8 sudah tak terhitung berapa banyak pertanyaaan sejenis tapi Ummu S belum bisa menjawab.
Masalah klasik ketidakcocokan antara mertua dan menantu sering terjadi setelah pernikahan. Yang awalnya begitu baik hati dan dirasa lebih perhatian daripada ibu kandungnya sendiri.
Seiring berjalannya waktu. Suatu hari ketika memandang cermin. Ummu S merasa banyak kekurangan dalam tubuhnya. Hidung yang tidak mancung *(pesek = Bahasa Jawa), bulu mata yang tidak lentik, serta berbagai titik minus lainnya yang menimbulkan kekecewaan dalam diri, menimbulkan organ-organ yang tak menghargai kondisi apa adanya. Hingga ketika mencuci piring, tanpa disadari ibu jari tangan kirinya terluka oleh pecahan gelas yang ditumpuk bersama dengan piring kotor. Sehingga dia harus dirawat ke UGD. Ternyata menurut ahli syaraf, otot ibu jari tangan kirinya ada yang putus. Maka dari itu telapak tangan kirinya harus di gips selama 3 pekan. Dan perlu waktu kira-kira 3 bulan untuk mengembalikan fungsi otot. Ini semua terjadi akibat dirinya yang tidak mensyukuri anugerah yang ada.
Sekian lama Ummu S memakai jilbab membuat suaminya risih dan menyuruh untuk melepas jilbab. Ummu S hanya diam dan dengan ragu dia menuruti perintah suami. Semakin lama akhirnya dia gerah dengan perbuatan buka tutup jilbab. Merasakan dikejar oleh dosa, merasa mempermainkan Allah. Karena takut akan laknat Allah maka ia pun menentang perintah suaminya dan kembali berjilbab sepenuhnya. Tiap malam memanjatkan dan memohon kekuatan dan kesabaran dan petunjuk-Nya.
Meskipun hidup jauh dari suasana keislaman, seperti tidak terdengarnya suara adzan dari masjid-masjid, mushola ataupun langgar, ceramah-ceramah keagamaan di TV atau majelis taklim, tetapi mereka yang minoritas senantiasa berusaha saling menjaga keimanan dan membuat beragam kegiatan. Bahkan di negeri orang inilah rasa persaudaraan sesama perantauan terasa mudah terjalin dan terikat kuat.
Setelah tinggal di Jepang, tidak sedikit yang makin meningkat keimanannya dan memakai jilbab. Bahkan bisa mengajak teman-temannya sesama orang Indonesia memakai jilbab dan juga membuat orang Jepang menjadi tertarik dengan agama islam.
Di Nagoya, kota tempat tinggal Ummu S ada kegiatan pengajian keluarga yang dilaksanakan tiap hari ahad pekan kedua. Acara itu diadakan dirumah salah satu
keluarga secara bergantian tiap bulannya. Lalu tiap hari Ahad di akhir bulan ada pengajian umum yang sebelumnya dimulai dengan acara mengaji untuk anak-anak.
Selain itu, untuk menambah jam belajar dan bermain bersama anak-anak, ada pula kegiatan mengaji tiap hari Sabtu di Masjid Nagoya. Juga ada kegiatan mengkaji Al- Qur’an bagi ibu-ibu. Kelompok mengaji Al- Qur’an ada beberapa kelompok berdasarkan wilayah tempat tinggal karena tempat tinggal mereka tersebar.
Untuk mereka para muslimah ada milis Fahima sebagai wadah forum silaturahmi muslimah di Jepang yang mencakup sampai ke negara-negara lain. Ada muslimah dari Perancis, Singapura, Qatar, Amerika dan lain-lain.
Meskipun hidup diluar negeri yang fasilitas keagamaannya masih kurang daripada di Indonesia, bukan berarti kehausan mereka akan belajar dan menambah pengetahuan tentang agama Islam tidak tersalurkan. Justru dengan adanya fasilitas teknologi canggih, komunikasi antara mereka bisa berjalan lancar. Ditambah dengan tersedianya transportasi yang beraneka ragam dan tepat waktu, membuat mereka mudah untuk melangkah kaki menuju majelis ilmu. Dan yang lebih penting lagi, bukan berarti mereka akan dengan mudah berganti agama.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan terhadap landasan teori serta analisis struktural novel menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
Sastra adalah karya imajinatif bermedia bahasa yang nilai atau unsur estetikanya dominan. Karya sastra adalah sesuatu yang disampaikan oleh sastrawan dalam karyanya adalah manusia dengan segala macam perilakunya berupa rekaan dari sastrawan. Memiliki 5 fungsi (Fungsi rekreatif, estetis, didaktif, moralitas dan religiusitas) yang intinya sebagai hiburan dan memberikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan. Macam-macam karya sastra modern antara lain : Novel, Cerpen, serta Puisi.
Hasil analisis unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati. Unsur Intrinsik meliputi :
1. Alur/ Plot, tehnik pengaluran yang digunakan pengarang adalah tehnik sorot balik/ Flash back yaitu urutan tahapan dibalik seperti regresif.
2. Penokohan, dilukiskan dengan jelas dalam cuplikan-cuplikan novel. Ummu S, tokoh yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius dalam tiap langkah.
3. kehidupan dan tegar menghadapi setiap permasalahan hidup yang dialaminya. Sedangkan tokoh lain berkarakter sesuai dengan sifatnya.
4. Latar, meliputi aspek tempat, waktu dan suasana. Latar tempat dalam novel tersebut terjadi di beberapa tempat, antara lain di sebuah supermarket di Jepang, Nagoya, Stasiun Tokyo dan lain-lainnya. Aspek waktu pada tahun 2000-an, kebanyakan bahasa menggunakan bahasa tidak baku layaknya kehidupan saat ini. Suasana kehidupan yang dialami masyarakat Nagoya adalah karier, kesibukan yang dilakukan semata hanyalah kepentingan karier namun masih bersosialisasi dengan masyarakat meskipun ada yang bersifat individualis.
5. Amanat yang dapat dipetik adalah hendaknya seseorang bersabar dalam menghadapi cobaan hidup, tetap mempertahankan islam diri di Negara lain, serta mampu mengajak masyarakat untuk ikut serta menjadi muslimin dan muslimah yang baik.
6. Tema yang terdapat adalah keteguhan hati dan pendirian agama dalam negeri perantauan.
7. Gaya bahasa, dalam novel banyak menggunakan kata-kata tidak baku misal : Nggak…, Ah…, Agak…,…aja, dan lain sebagainya. Majas yang digunakan yaitu personifikasi.
8. Sudut Pandang, pengarang sebagai orang pertama dengan kataaku atau –ku untuk tokoh utama.
Unsur Ekstrinsik yang ada antara lain nilai religi adanya masjid tergambar dalam cerita novel meski hanya sedikit, acara siraman rohani dan lain sebagainya, nilai sosial, saling membantu, menghargai, menyayangi satu sama lain serta nilai estetika kesopanan dalam bertingkah laku yang dilakukan tokoh dalam novel adalah ucapan maaf bila sekiranya telah berbuat kesalahan. Itu akan lebih baik daripada tidak mengucap sekalipun.

ANALISIS TOKOH UTAMA NOVEL DENGARLAH NYANYIAN ANGIN KARYA HARUKI MURAKAMI




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karya sastra adalah wujud dari buah pemikiran manusia yang secara sadar maupun tidak sadar dapat terwujud dalam perbuatan maupun perwujudan keseharian. Di samping itu, sastra memiliki banyak manfaat dan juga memiliki banyak dampak yang mempengaruhi watak maupun sikap seseorang dalam menjalani kehidupannya. Sastra berada di atas kehidupan manusia. Secara tidak langsung penulis menyampaikan bahwa sastra baik secara lisan maupun tulisan yang keluar dari mulut maupun gaya keseharian yang tersurat dalam tulisan.

Menurut M. Atar Semi (1988:8), “Sastra itu adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya”. Seperti yang telah diungkapkan M. Atar Semi bahwa sastra itu hasil pekerjaan seni kreatif, manusia dengan tangan pikirannya menjangkau riak-riak kedalaman hidup manusia. Hal ini sepaham dengan pengertian yang dibentuk oleh penulis sendiri, yaitu sastra merupakan cairan pikiran yang dituangkan ke dalam mangkuk kehidupan yang luas. Dengan begitu sastra merupakan hal kompleks yang ada di dalam manusia secara tak sadar. Di sini bahasa merupakan komunikator dan mediumnya.

Karya sastra mengandung berbagai unsur yang sangat kompleks, dan mengandung unsur kebahasaan, struktur wacana, signifikan sastra, keindahan, sosial budaya, nilai, dan latar kesejarahannya (Aminuddin, 1987: 51). Sekali lagi dikatakan bahwa sastra itu hal yang kompleks. Namun jika semua bergabung dalam satu kesatuan terlihatlah kekhasan karya sastra tersebut.

Karya sastra dapat dikategorikan dalam dua jenis yaitu karya imajinatif dan karya non imajinatif. Puisi, cerpen, novel, drama merupakan karya sastra. Dan salah satu yang termasuk ke dalam sastra imajinatif adalah novel. Dalam penulisan karya ilmiah ini akan dibahas mengenai novel. Menurut Ater dalam bukunya (1988: ),

Di antara para ahli teori sastra kita memang ada yang membedakan antara novel dan roman, dengan mengatakan bahwa novel mengungkapkan suatu konsentrasi kehidupan pada suatu saat yang tegang, dan pemusatan kehidupan yang tegas: sedangkan roman dikatakan sebagai menggambarkan kronik kehidupan yang lebih luas yang biasanya melukiskan peristiwa dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan meninggal dunia. Ada yang menyebutkan bahwa roman merupakan karya fiksi yang menggambarkan tentang tokoh dan peristiwa-peristiwa yang hebat-hebat: mengagumkan, mengerikan, atau menyeramkan; sedangkan novel merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus.


Dari uraian di atas mengenai perbedaan antara novel dan roman sudah jelas bahwa roman itu cakupannya lebih luas karena rentang cerita dari lahir hingga tiada. Novel merupakan hasil pemikiran penulis mengenai salah satu atau lebih cerita-cerita dalam kehidupan manusia yang dituangkan ke dalam tulisan, dirangkaikan dan diolah sedemikian rupa sehingga memiliki jalan cerita dan lika-liku kehidupan manusia.

Dewasa ini, novel cukup diminati terutama kalangan remaja. Banyaknya karya-karya yang muncul dari novelis-novelis muda yang memunculkan cerita-cerita apik dan dibubuhi bahasa yang sangat menarik. Novel-novel yang cukup menarik dibaca juga berasal dari negara luar atau novel terjemahan. Karya-karya novelis luar negeri patut kita acungkan jempol juga. Salah satu penulis berbakat yaitu Haruki Murakami. Kalimat-kalimat Haruki yang banyak menceritakan mengenai kehidupan dan tanpa sadar mengingatkan kita pada hal alami dan natural dari dasarnya kehidupan dunia. Melalui novel-novelnya Haruki menunjukkan keeksistensi manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan berkuasa di dunia, karya-karyanya pun mengandung banyak kritik-kritik terhadap arus-arus sosial budaya di Jepang yang semakin lama semakin bercampur dan bertambah menjadi sangat dramatis. Kehidupan identik dengan alam dan semua itu dicampuradukkan ke dalam karya Haruki.

Novel karya Haruki Murakami, Dengarlah Nyanyian Angin, merupakan salah satu dari novel yang cukup terkenal di Jepang. Penulis tertarik untuk membahas novel ini karena dalam karya pertama Murakami ini, ia sukses menciptakan bahasa yang unik dan menarik di setiap sisi lembaran novel ini. Ia piawai menciptakan humor cerdas, analogi dan kata-kata bijak yang hampir selalu ada di setiap lembaran halaman bukunya. Walaupun sebenarnya gaya penceritaan novel ini tidak terlalu bombastis dan latarnya datar-datar saja, namun kemampuan Murakami menggambarkan karakter tokoh-tokoh dalam novel ini, baik tokoh utama maupun tokoh-tokoh yang hanya numpang lewat saja. Selain itu pula novel ‘Dengarlah Nyanyian Angin’ ini pernah mendapatkan dan memenangkan Gunzo Literary Award pada tahun 1979.

Novel yang memiliki judul asli ‘Kaze no Uta wo Kike’ ini merupakan kisah kaum muda yang berlatar tahun ’60 hingga ‘70an, mereka kaum-kaum yang merasakan arus pembenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang pada waktu itu. Bagaimana kisah-kisah mereka dituangkan ke dalam novel ini diwakilkan oleh 3 orang anak muda yang memiliki bayangan-bayangan masa depan yang belum mereka ketahui.

Untuk menganalisis karya sastra berdasarkan teori dan kritik sastra terdapat beberapa pendekatan yang dikategorikan oleh Abrams (Wiyatmi, 2006:78) yaitu:
1. Pendekatan mimetik
2. Pendekatan objektif
3. Pendekatan ekspresif
4. Pendekatan pragmatik

Dalam pembahasan ini penulis menggunakan pendekatan objektif atau structural. Penulis menganalisis tokoh utama karena menganggap tokoh utama dalam Novel Dengarlah Nyanyian Angin ini mendominasi seluruh sisi cerita. Ia mengawali penceritaan dari awal hingga akhir. Ia memiliki watak yang betul-betul sangat berbeda dan unik. Bentuk kehidupannya yang dari kecil yang tergantung pada dirinya sendiri membuatnya pribadi yang sangat berbeda dewasa kelak. Jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh tambahan, sangat berbeda. Banyak hal yang dapat ditemukan dan dipelajari darinya.

Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang tersebut di atas penulisan ini diberi judul “Analisis Tokoh Utama Dalam Novel Dengarlah Nyanyian Angin Karya Haruki Murakami”.

B. Pembahasan Teori
Novel merupakan salah satu karya sastra imajinatif yang merupakan hasil dari pemikiran rekaan manusia. Jenis fiksi ini memuat cerita yang kompleks mengenai kehidupan seseorang maupun masyarakat. Novel merupakan cerita yang kompleks. Seperti yang ditulis Jakob Sumarjo dalam bukunya (1986 : 29),

Novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. Ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, karakter yang banyak, tema yang kompleks, suasanan cerita yang beragam, dan setting cerita yang beragam pula. Namun “ukuran luas” di sini juga tidak mutlak demikian, mungkin yang luas hanya salah satu unsure fiksinya saja, misalnya temanya, sedang karakter, setting, dan lain-lain hanya satu saja.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dinyatakan bahwa di dalam sebuah novel hanya terdapat salah satu unsur yang menguasai jalannya sebuah novel. Ada unsur tertentu yang sangat kuat penggambarannya yang dideskripsikan oleh penulis dalam karyanya. Di dalam penulisan ini, novel yang akan dianalisis merupakan novel yang kuat unsur penokohan di dalamnya.

Beberapa unsur struktur cerita rekaan adalah ; alur, penokohan, latar, pusat pengisahan, dan gaya bahasa (Mursal Esten, 1978:25). Seperti yang telah dikemukakan di atas penulisan ini merupakan pembahasan analisis penokohan. Oleh karena itu, penulis menggunakan pendekatan objektif.

1. Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian kepada sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebgai struktur yang otonom dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarang, maupun pembaca. Wellek & Warren dalam Wiyatmi (2006:87) menyebutkan pendekatan ini sebagai pendekatan intrinsik karya sastra yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri.

Dalam meneliti sebuah karya sastra diperlukan pendekatan, dalam penulisan ini digunakan pendekatan struktural. Jika peneliti sastra ingin mengetahui sebuah makna dalam sebuah karya sastra maka peneliti harus menganalisis aspek yang membangun karya tersebut dan menghubungkan dengan aspek lain sehingga makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra mampu dipahami dengan baik. Pendekatan struktural melihat karya sastra sebagai satu kesatuan makna secara keseluruhan.

Menurut Teeuw (1984:135), Pendekatan struktural mencoba menguraikan keterkaitan dan fungsi masing-masing unsur karya sastra sebagai kesatuan struktural yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Pendekatan structural membongkar seluruh isi (unsur-unsur intrinsik di dalam novel) dan menghubungkan relevansinya antara unsur-unsur di dalamnya.

2. Tokoh, Penokohan, dan Perwatakan
Tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita (Nurgiyantoro, 2000:165). Penokohan ialah bagaimana cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan (Mursal Esten, 1978:27). Watak, perwatakan, dan karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas peribadi seorang tokoh (Nurgiyantoro, 2000:165).

Bagaimana penulis menggambarkan karakter tokoh utama dalam novel ini sehingga watak-watak tokoh sesuai dengan cerita tema, dan amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang. Peristiwa dalam karya fiksi selalu dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang diceritakan mengalami kejadian keseharian. Tokoh-tokoh yang diangkat sebagai pelaku jalannya cerita mengalirkan arus dan membawa cerita ke dalam awal, klimaks hingga akhir. Kesatuan cerita yang dibawa oleh tokoh dan memiliki kaitan yang sangat erat dengan tokoh. Menurut Aminuddin (1987 : 79), “Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan”. Cara pengarang menampilkan tokohnya dari berbagai peristiwa itu berbeda-beda. Masih menurut Aminuddin dalam bukunya (1987:79),

…pengarang menampilkan tokoh sebagai pelaku yang hanya hidup di alam mimpi, pelaku yang memiliki semangat perjuangan dalam mempertahankan hidupnya, pelaku yang memiliki cara sesuai dengan kehidupan manusia yang sebenarnya, maupun pelaku yang egois, kacau dan mementingkan diri sendiri. Dalam cerita fiksi, pelaku itu dapat berupa manusia atau tokoh makhluk lain yang diberi sifat seperti manusia, misalnya kancil, kucing, sepatu, dan lain-lain.

Dalam sebuah novel tokoh memegang peranan yang sangat penting, namun tak lepas dari itu, tokoh dalam novel memegang peranan yang berbeda-beda. Ada tokoh yang penting ada pula tokoh tambahan.

Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut dengan tokoh inti atau tokoh utama. Sedangkan tokoh yang memiliki peranan tidak penting karena pemunculannya hanya melengkapi, melayani, mendukung pelaku utama disebut tokoh tambahan atau tokoh pembantu.
(Aminuddin, 1987:79)

Untuk memahami seluk beluk novel, fungsi tokoh utama sangat penting. Pembaca mengikuti alur cerita karena mengikuti gerak tokoh utama cerita. Penokohan biasanya digambarkan dari penggabungan minat, keinginan, emosi, dan moral yang membentuk individu dalam suatu cerita. Setiap pengarang ingin menunjukkan tokoh-tokoh yang ditampilkan dan secara tidak langsung ingin menyampaikan sesuatu dari tokoh-tokoh yang ditampilkannya pula. (M. Atar Semi, 1988).

Ada dua macam cara memperkenalkan tokoh dan perwatakan dalam fiksi yaitu secara analitik dan secara dramatis. Menurut M. Atar Semi (1988:39), “secara analitik, yaitu pengarang langsung memaparkan tentang watak atau karakter tokoh, pengarang menyebutkan bahwa tokoh tersebut keras hati, keras kepala, penyayang, dan sebagainya.” Membaca isi novel secara seksama kemudian menampilkan bagaimana sosok karakter seorang tokoh secara langsung. Berbeda dengan cara dramatis, “secara dramatis,penggambar perwatakan yang tidak diceritakan langsung, tetapi hal itu disampaikan melalui : (1)pilihan nama tokoh, (2)melalui penggambaran fisik, (3)melalui dialog. Poin ketiga merupakan poin penting yang juga sangat sering diperhatikan, karena watak seseorang mudah diketahui lewat apa yang dikatakannya.


BAB II

HASIL PENELITIAN
A. Karakter Tokoh Utama
Tokoh utama merupakan tokoh sentral yang perannya sangat berpengaruh terhadap tokoh lainnya, namun secara tidak langsung mendapat pengaruh yang sama terhadap penggambaran karakter dari peran tambahan. ‘Aku’ kecil adalah anak yang sangat pendiam, hingga dibawa oleh ibunya ke seorang psikiater di mana dia mendapatkan pelajaran “Peradaban adalah informasi”. Jika sudah tak ada lagi informasi yang ingin disampaikan atau dibagi, maka selesailah peradaban. Selanjutnya ‘Aku’ berkembang menjadi pemuda yang tak pendiam, tapi tak banyak bicara juga. Digambarkan sebagai seorang yang memiliki kepribadian yang cukup unik, Tokoh aku dilatar belakangi oleh kehidupan masa kecilnya yang cukup berbeda dari anak kecil lainnya. “Sewaktu kecil aku adalah anak yang sangat pendiam. Karena khawatir, kedua orang tuaku membawaku ke rumah kenalan mereka yang seorang psikiater.”(Murakami, 2008:22)

Hal ini digambarkan pula melalui kutipan berikut,
…. Sungguh sulit dipercaya, tapi di suatu musim semi ketika usiaku beranjak empat belas tahun, tiba-tiba saja aku mulai mengoceh tak ubahnya seperti dam yang ambrol. Aku tak ingat apa yang kukatakan waktu itu, tapi aku terus mengoceh tanpa henti selama tiga bulan seperti berusaha menutupi kekosongan selama empat belas tahun. Di pertengahan Juli, ketika selesai mengoceh, aku menderita demam setinggi 40°C sehingga harus absen dari sekolah selama tiga hari. Akhirnya setelah demamku turun, aku menjadi pemuda biasa, tidak pendiam tidak juga banyak bicara. (2008:26).

Tokoh aku terinspirasi dari salah seorang penulis barat Derek Heartfield, seorang penulis kelahiran Amerika yang tidak terlalu terkenal dan mati bunuh diri. Karya-karya Derek Heartfield menyusuri liku hidupnya selama beberapa tahun. Dalam kutipan Murakami “Aku banyak belajar tentang kalimat dari Derek Heartfield. Mungkin seharusnya aku bilang bahwa hampir semuanya kupelajari dari dia.” (2008:3)

Percakapan-percakapan dalam karya ini tergolong cukup singkat, terutama pada bagian tokoh ‘aku’. Percakapan-percakapan singkat yang dilontarkan oleh tokoh utama ini juga sangat membantu kita dalam memberikan penilaian tentang sifat dan karakter yang diusung oleh tokoh ‘aku’. Dari dialog tokoh ‘aku’ terlihat bahwa tutur-katanya hanyalah sebuah formalitas dan tidak lebih. Hal tersebut lebih dapat disebut sebagai sebuah ‘keengganan yang dipaksakan’ karena ia tidak terlalu menanggapi percakapan-percakapan tersebut dengan serius. Dari beberapa bagian percakapannya dengan Nezumi ataupun percakapannya dengan teman gadisnya ia selalu menjawab sesuai logika dan kadang terlalu logis. “Misalnya gigi keropos. Suatu hari gigi kita yang sudah keropos tiba-tiba terasa sakit. Seseorang mencoba menghibur kita, tapi rasa sakit tidak berarti akan hilang. Kalau sudah begitu, kita mulai kesal terhadap orang-orang yang tidak merasa kesal terhadap dirinya sendiri. Ngerti nggak?” (Murakami, 2008:110)

Sebenarnya kata-kata yang dilontarkan oleh ‘aku’ ini cukup bijaksana walaupun terkesan aneh. Murakami (2008:110) menyebutkan,

Tapi coba kau pikirkan baik-baik. Kondisi semua orang sama saja. Sama seperti ketika kita naik pesawat rusak. Tentu saja di situ ada orang yang bernasib baik dan bernasib buruk. Ada yang tangguh, ada juga yang lemah; ada yang kaya, ada pula yang miskin. Hanya saja, tidak ada yang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada orang lain. Semua orang sama. Orang yang memiliki sesuatu selalu khawatir, jangan-jangan apa yang dia miliki sekarang akan hilang, sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa selalu cemas, jangan-jangan selamanya aku akan tetap menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Semua orang sama! Karena itu, manusia yang menyadari hal itu lebih cepat harus lebih berusaha menjadi sedikit lebih tangguh. Sekadar pura-pura pun tidak apa. Betul kan? Di mana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.

‘Aku’ merupakan tokoh yang berpikir segala sesuatu itu dapat dipikirkan dengan baik dan tanpa perlu tergesa-gesa, kesannya ia memikirkan baik-baik mengenai sesuatu dan dari itulah ia menjadi tokoh yang bijak dalam menangani sesuatu. Tokoh yang digambarkan penyabar ini selalu berpikir segala sesuatunya itu dengan bijak walaupun terkadang dengan perkataan-perkataannya yang sangat kompleks tersebut. Yang menarik dari lakon utama ini adalah perwatakannya yang digambarkan oleh Murakami. Ada dua macam jenis perwatakan yang dimiliki oleh tokoh ‘aku’. Dua jenis perwatakan itu pada dasarnya memiliki sifat yang beroposisi satu sama lainnya. Pada sisi dialog, sang tokoh merupakan seorang yang tidak terlalu mengambil aksi semua hal yang ada disekitarnya. Sebagai subjek dari kepasifannya, tokoh ‘aku’ merupakan tokoh yang sangat tidak tanggap akan keadaan sekitarnya. Misalnya, hubungannya dengan teman baiknya yang bernama Nezumi. Kejadian seperti ini banyak ditemukan di bagian lainnya, tidak hanya berkaitan dengan Nezumi tetapi juga dengan tokoh-tokoh lainnya.

Di akhir masa SMA, aku memutuskan untuk hanya mengungkapkan setengah dari apa yang ada di dalam hatiku. Aku sudah lupa alasannya, tapi niat itu kulaksanakan selama beberapa tahun. Suatu hari, kusadari bahwa aku telah menjadi manusia yang hanya bisa mengungkapkan setengah dari apa yang kupikirkan. (Murakami, 2008: 101)

‘Aku’ lebih banyak bercerita dan digambarkan lebih sensitif. Bagian ini sangat menonjol di beberapa sub-bab awal dan akhir karya walaupun hal ini tidak bermaksud menyangkal kemunculan bagian tersebut pada sub-bab lainnya. Perwatakan ini lebih banyak mencoba menjelaskan penceritaan yang ingin disampaikan karya. Kalau ditilik lebih jauh, untuk menemukan karakter sebenarnya dari tokoh aku ini cukup sulit. Namun penulis mencoba mencari satu kutipan di mana menjelaskan karakter utama dari tokoh ‘aku’. Dalam Murakami (2008:26) penulis menemukan satu kutipan yang penulis rasa cukup mewakili karakter utama ‘aku’ dalam novel ini, “… aku menjadi pemuda biasa, tidak pendiam tidak juga banyak bicara”.

B. Hubungan Tokoh Utama dan Tokoh Lain
Karakter-karakter yang ditampilkan dalam karya juga merupakan aspek yang menarik untuk dilihat. Secara garis besar karya ini memiliki beberapa karakter. Tiga orang dari karakter tersebut memainkan peranan yang cukup dominan dalam karya, seperti Nezumi (anak orang kaya yang membenci orang-orang kaya), wanita berjari empat (tipe wanita pekerja yang bosan dengan kehidupannya), dan Jay (seorang perantau dari negri ‘tirai bambu’ yang mencoba mengadu nasib di Yamanote, Jepang). Di samping ketiga karakter tersebut masih ada beberapa karakter yang meskipun tidak terlalu mendominasi di dalam karya namun memiliki pengaruh yang sangat besar dalam diri ‘aku’. Tokoh itu adalah ayah ‘aku’, penyiar radio, dan Derek Heartfield (seorang penulis fiktif)

a. Hubungan Tokoh ‘aku’ dan Nezumi
Nezumi adalah sahabat ‘aku’.mereka bertemu secara tidak sengaja dalam situasi yang aneh, bertemu karena mabuk berat dan mengenadarai mobil hingga menabrak dan pada saat itulah mereka saling berkenalan. Nezumi cukup kaya, terlihat dari mobil yang selalu ia pakai dan berganti-ganti dengan mudahnya. Hal anehnya ia membenci orang kaya. Ia pun membenci statusnya sebagai orang kaya. Nezumi menganggap orang kaya adalah orang yang dan suka membuang-buang waktu. “Mendingan semua orang kaya ke laut aja deh!” pendapat Nezumi.

Ia mengaku tak suka membaca buku, namun kemudian melahap karya-karya Henry James sampai Kazantzakis, dan bercita-cita menulis novel tanpa adegan seks dan kematian. Kegemarannya adalah memakan panekuk baru matang yang disiram Coca Cola, dan memiliki kalimat yang menjadi ciri khasnya “Kukatakan dengan tegas, ya…”

Seperti yang dikemukakan di atas tokoh ‘aku’ merupakan tokoh yang sangat tidak tanggap akan keadaan sekitarnya. Misalnya, hubungannya dengan teman baiknya yang bernama Nezumi. Walaupun secara tidak langsung Nezumi sebagai seorang sahabat ‘aku’ selalu berpengaruh terhadapnya. Nezumi, secara tidak langsung mengubah karakter tokoh utama menjadi semakin berkembang pikirannya.

Tokoh utama belajar dari perubahan sikap Nezumi. Walaupun terkadang Nezumi bisa langsung berubah dan berkepribadian terbalik dengan kepribadiannya yang biasa.

b. Hubungan Tokoh ‘aku’ dengan wanita berjari empat
Begitu pula dengan perubahan-perubahan tokoh lain. Ada seorang tokoh lagi, ia adalah seorang wanita yang ditolong oleh ’aku’ ketika mabuk berat. Tokoh ini juga cukup unik. Bersama dengan tokoh aku tokoh wanita ini menghabiskan waktu selama 18 hari bersama. Pemunculan-pemunculannya yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan tokoh utama cukup berpengaruh. Si wanita ini sungguh cuek dengan keadaannya. Tidak peduli kata ‘aku’ dia tetap menjalaninya. Wanita ini juga sungguh cerdas dan tidak jauh beda dengan tokoh utama. Ucapan-ucapannya juga cukup pedas dan tegas,

“Kalau tidak keberatan, bagaiman kalau kita makan bersama?”
Dia menggelengkan kepala tanpa mengalihkan pandangan dari kuitansi.
“Aku suka makan sendirian.”
“Aku juga begitu kok.”
“Masa sih?”
Seolah-olah sudah muak, dia menggeser kuitansi-kuitansi itu ke samping lalu meletakkan album baru harpers Bizarre di pemutar piringan hitam lalu menurunkan jarumnya.
“Kalau begitu, kenapa kamu mengajakku?”
“Sekali-sekali ingin mengubah kebiasaan.”
“Ubah saja sendiri.”
Dia menarik lagi kuitansi-kuitansi itu lalu melanjutkan pekerjaannya. “Sudahlah, jangan ganggu aku lagi.”
Aku mengangguk.
“Rasanya dulu aku pernah bilang, kamu cowok rendahan.” Setelah berkata demikian, dia memonyongkan mulutnya dan tetap dengan mimik seperti itu dia membuka-buka kembali kuitansi-kuitansi itu dengan keempat jarinya.

c. Hubungan Tokoh ‘aku’ dengan ayah
Kemunculan sosok ayah tokoh utama memang tidak terlalu kentara di dalam karya ini. Sosok ini hanya muncul melalui dialog lakon utama dengan wanita penjual piringan hitam yang telah menjadi sahabatnya. Dari dialog yang ada dapat kita lihat besarnya pengaruh sang ayah atas diri lakon utama. Ayahnya adalah seorang yang mendidik anaknya secara keras sehingga sedikit banyak membentuk sifat dan karakter lakon utama.
“Nggak mungkinlah. Sepatu ayahku. Ini sudah menjadi aturan di rumah. Anak-anak diwajibkan menyemir sepatu ayahnya. Begitulah peraturannya.”
Jika kita perhatikan, keluarga tempat ‘aku’ dibesarkan merupakan keluarga yang masih menganut sistem atau norma lama, anak harus menjalankan perintah orang tua; hal ini juga jamak ditemukan di berbagai kebudayaan Asia secara umum. Keadaan ini sangatlah kontradiktif dengan lingkungan yang ditampilkan, yakni pengaruh kebudayaan barat yang menjadi ajang pergaulan bagi kawula muda. Jelaslah bahwa tokoh utama hidup di antara benturan dua budaya yang berbeda.

d. Hubungan Tokoh ‘aku’ dengan penyiar radio

Peran serta penyiar radio juga tak dapat dipungkiri dari kehidupan sang tokoh utama. Hubungannya dengan penyiar radio membuat tokoh ‘aku’ kembali teringat akan seorang wanita dari masa lalunya. Hal ini memicu pertemuannya dengan wanita penjual piringan hitam yang nantinya menjadi teman dekat ‘aku’; mereka memiliki hubungan bak sepasang kekasih. Lebih lanjut, faktor ini juga mempengaruhi ‘aku’ dalam mengisahkan kembali pengalaman-pengalamannya dalam cerita ini.

C. Hubungan Tokoh Utama dengan Latar dan Alur

Terdapat hubungan fungsional antara penokohan dan alur. Hal ini terlihat dari sisi peristiwa, permasalahan, dan konflik. Bab-bab awal diceritakan mengenai bagaimana tokoh utama membuka cerita dan bercerita mengenai kisah hidupnya selama beberapa tahun. Karakter dan sifat-sifat dan segala hal yang membentuk karakter tokoh ‘aku’, baik itu lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.Pada bab pertengahan dipaparkan kisah pertemuan-pertemuan yang terjadi antara Nezumi dan ‘aku’. Namun terdapat arus balik yaitu flashback pada part pertemuan pertama ‘aku’ dan Nezumi, “Aku bertemu dengan Nezumi pada musim semi tiga tahun lalu. Waktu itu adalah tahun kami memasuki perguruan tinggi, dan kami sedang mabuk berat. …”.

Selain itu, nostalgia yang kerap muncul adalah pengalaman bersama perempuan-perempuan masa lalunya. Bagaimana mereka bertemu, berpacaran, bercinta, berpisah. Salah satu perempuan itu muncul kembali tanpa diduga dengan cara yang sangat trendy saat itu: mengirimkan request lagu ke radio disertai pesan. ‘Aku’ gagal menemukan perempuan masa lalu itu. Peristiwa muncul dan hilang tiba-tiba ini akan menjadi tipikal di novel-novel Murakami selanjutnya.

Menjelang penghujung buku, pacar ‘Aku’ baru saja menggugurkan kandungannya, yang bukan anak ‘Aku’. Kisah terus bergulir hingga ‘Aku’ harus kembali masuk kuliah karena liburan musim panas berakhir. Ditutup dengan ‘Aku’ mengunjungi makam Heartfield di Ohio. Ada bagian-bagian di mana disisipkan pengulangan masa lalu di dalam cerita. Dalam cerita atau kilas balik yang diceritakan pengarang merupakan perbandingan pikiran tokoh aku dengan apa yang terjadi pada dirinya pada saat itu. Tokoh Aku selalu mengaitkan seluruh kejadian-kejadian yang dialaminya dengan masa lalunya.

Pengarang menggunakan alur campuran sesuai dengan alur cerita yang disajikan dalam novel. Peristiwa awal bersifat kronologis, namun perkembangan selanjutnya digunakan teknik sorot. Lewat sorot balik dapat diketahui peristiwa yang terjadi sebelumnya. Alur ini tidak mengganggu jalannya peristiwa dari awal hingga akhir.


BAB III
KESIMPULAN
A. Simpulan
Kesimpulan yang dapat dipetik dari pembahasan adalah tokoh utama yaitu ‘aku’ adalah tokoh pendiam dan selalu mengikuti arus dalam hidupnya. Tokoh ini digambarkan tokoh yang cukup bijaksana dan sedikt sensitif. Karakter tkoh aku’ sangat dipengaruhi oleh beberapa orang-orang yang pernah hidup di sekitarnya. Orang-orang yang pernah masuk dalam kehidupannya sangat membentuk kepribadian seorang ‘aku’. Selain itu, latar juga sangat berpengaruh dalam pembentukan watak. Rangkaian peristiwa yang dialami ‘aku’ menghubungkan cerita dalam novel. Latar tempat dan waktu, keadaan masyarakat dalam novel ini berpengaruh besar dalam penulisan karakter-karakter di dalamnya terutama tokoh ‘aku’.

B. Kekurangan dan Kelebihan Novel
Kelebihan: Ceritanya menarik dan bahasanya mudah dimengerti. Pembaca tidak akan merasa bosan karena ada bagian-bagian yang disuguhkan cukup menarik dan cukup lucu. Novel ini pun cukup tipis dan seperti yang dikemukakan di atas karena gaya penceritaannya yang cukup menarik novel ini mampu ditamatkan dalam beberapa jam.
Kekurangan: Terdapat bahasa yang tidak formal yang muncul dalam buku ini. Entah kenapa, penggunaan bahasa yang seperti itu membuat kesan kuat yang ada dalam buku ini menjadi berkurang.

DAFTAR PUSTAKAAminuddin. 1995. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru Algesindo

Antara, IGP. 1985. Teori Sastra. Singaraja : Setia Kawan

Esten, Mursal. 1978. Kesusastraan : Pengantar Teori & Sejarah. Bandung : PT Angkasa

Murakami, Haruki. 2008. Dengarlah Nyanyian Angin. Jakarta : Kepustakaan Populer

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajah Mada
University PressGramedia

Semi, M. Atar. 1988. Anatomi SASTRA. Padang: Angkasa Raya

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta : PT Gramedia

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka

ANALISIS PSIKOLOGI DAN SOSIOLOGI PENGARANG DALAM NOVEL DWILOGI “PADANG BULAN” KARYA ANDREA HIRATA”




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Dalam pengkajian sastra kita mengenal berbagai teori sastra. Teori-teori yang digunakan untuk mengelompokan dan menganalisis sejauh mana kekuatan dan kelebihan serta kelemahan sastra itu sendiri.
Dalam teori sastra kita mengenal teori ekspresif, dimana karya sastra adalah pengejawantahan dan bentuk ekspresi dari penulis itu sendiri. Secara sederhana teori ini menyatakan bahwa sastra akan terbentuk berdasarkan suasana hati pengarang. Pengarang senang, maka karya yang dihasilkan akan berlatar suasana menyenangkan. Jika suasana hati sedang gundah gulana maka karya yang dihasilkan akan berlatar suasana menyedihkan.
Hal ini akan menjadi menarik jika kita mau menyesuaikan biografi tokoh dengan karya-karya pengarang. Sebagai hasil pengkajiannya, kita akan mengatahui secara lengkap dan sempurna tentang pandangan hidup dan idealis pengarang, pesan dan amanat pengarang, pengalaman hidup dan pelajaran penting dari kehidupan pengarang, hingga kondisi pribadi pengarang itu sendiri.
Yang paling penting dari setiap pengkajian dan penelitian karya sastra, peneliti dan pembaca harus menyadari dengan sangat bahwa masing-masing individu pengarang memiliki pesan atau gagasan dari setiap masalah kehidupan yang dituangkan dan hendak disampikan melalui tulisan (dalam hal ini karya sastra).
Dalam bidang sastra penulis indonesia (khususnya jawa) mengenal dan mengamalkan prinsip sandiwara. Yang berasal dari kata sandi yang berarti tersenbunyi dan wara yang berarti berita/informasi/pelajaran. Jadi istilah sandiwara ini juga berlaku dalam proses penafsiran dan pengkajian karya sastra oleh pembaca maupun peneliti. Pembaca dan peneliti berhak memberikan penafsiran sesuai dengan kemampuan mereka. Mencari dan membaca pesan yang terkandung dalam setiap kata dalam karya sastra itu. Maka pemeroleh pelajaran setiap pembaca relatif berbeda. 
Dalam buku kajian prosa yang ditulis oleh Sutedjo dan kasnadi mengaitkan adanya pertautan antara karya sastra dengan psikologi, yang disebut psikologi sastra. Ada empat pengertian dalam hal psikologi sastra. Dan peneliti mengambil makalah dari segi studi psikologi pengarang.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti mengambil penelitian dengan judul “ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA DALAM NOVEL DWILOGI PADANG BULAN KARYA ANDREA HIRATA” untuk mengetahui kaitan antara psikologi pengarang dengan karya sastra yang dihasilkan.
  
B.     Rumusan Masalah
Mengurai masalah pada latar belakang diatas peneliti menganalisis berbagai kemungkinan masalah yang akan dikaji, dan berhasil merumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1.      Bagaimana kondisi Psikologi pengarang saat ini?
2.      Bagaimana kondisi psikologi tokoh saat ini?
3.      Bagaimana kaitan antara psikologi pengarang dengan psikologi tokoh dalam novel?

C.    Tujuan dan kegunaan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kaitan antara psikologi pengarang dengan psikolgi tokoh dalam novel. Beberapa kesamaan yang didapat dari keduanya, dan pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada membaca melalui tulisannya.
Adapun secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
1.      Mengetahui kondisi psikologi pengarang.
2.      Mengetahui kondisi psikologi tokoh dalam cerita.
3.      Mengetahui kaitan antara psikologi pengarang dengan psikologi tokoh dalam novel.
Adapun kegunaan dari penelitian ini diharapkan adalah :
1.    Secara teoritis
Manfaat secara teoritis hasil penelitian ini bermanfaat bagi pemahaman peneliti terhadap teori sastra, serta memberikan referensi untuk membuat karya-karya yang lain.
2.    Secara Praktis
a.      Bagi peneliti
Bagi peneliti sebagai ajang latihan untuk melatih daya nalar dan mengasah intelektualiats peneliti. Sebagai bukti implementasi ilmu yang diterima di bangku kuliah sekaligus memenuhi tugas akhir pada mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif
b.      Bagi lembaga
Sebagai upaya pelayanan lembaga dalam hal meningkatkan intelektual peserta didiknya.



BAB II
KAJIAN TEORI
A.      Kajian Teori
Karya sastra banyak ragamnya. Ada puisi, prosa, dan dramaa. Puisi terdiri atas beberapa ragam, prosapun memiliki ragam. Sementara drama juga memiliki jenis sesuai dengan sifat karakter yang membedakan antara drama yang satu dengan lainya.
Dalam mengkaji karya sastra kita mengenal unsur-unsur yang membangun sebuah cerita . baik unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik. Unsur intriksik karya sastra meliputi Alur, tema, tokoh, penokohan dan setting.
Namun pengkajian karya sastra tidak hanya dikaji dari sisi pembangun dari dalam,  namun juga dibangun dari unsur-unsur luaran seperti Psikologi, Sosiologi, Sejarah pengarang yang berpengaruh pada karya sastra.
Faktor-faktor pendukung seperti ini justru memberikan kekuatan terhadap karya sastra. Salah satu karya sastra yang dominan pada unsur sosiologi adalah Padang Bulan karya Andrea Hirata. Menjadi Latar sosial kehidupan pengarang sebagai ide dan inspirasi bagi pengarang membuat, Novel ini seakan-akan kisah nyata yang banyak memberikan gambaran sosial pengarang.
Dalam buku kajian sastra yang ditulis oleh Sutedjo dan Kasnadi, salah seorang dosen dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Ponorogo. Menerangkan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang menkaji segala aspek kehidupan sosial manusia. Dan sedangkan sastra merupakan karya manusia yang membicarakan kehidupan manusia dengan media bahasa.
Objek kajian sastra meliputi tiga hal, yaitu Sastra tulis, Satra Lisan dan Sastra Pentas. Sedangkan dalam penelitian ini, penelti mengabil objek penelitian sastra tulis berupa Novel berjudul Padang Bulan karya Andrea Hirata.
Dalam pendekatannya sosiologi mengamati pada tiga hal, Sosiologi pengarang, Sosiologi dalam karya sastra dan Sosiologi Pembaca.





BAB III
BIOGRAFI DAN KARYA PENGARANG
1.      BIOGRAFI PENGARANG.
Andrea Hirata, Novelis kelahiran tanah belitong ini tidak hanya dikenal dalam dunia novelis nasional, bahkan novelis yang mendapatkan sepuluh penghargaan internasional itu telah dijejerkan namanya dengan berbagai nama novelis internasional. Pada tanggal 23 maret 2010 telah menandatangani Publisher Agreement antara penerbit bentang pustaka dengan Amer-asia books, Inc, Tuscon, Arizona, USA. Peristiwa ini membuktikan bahwa putra bangsa memiliki kapasitas yang baik dalam dunia kepenulisan. Dan tentunya akan memberikan suntikan motivasi untuk penulis-penulis Indonesia untuk mengikuti jejak langkahnya.
Mengapa harus karya andrea herata?
Banyak hal yang sangat unik dari karya-karya adrea. Ide tulisan dengan hasrat bereksperiment dan cara brfikir yang luas serta dapat menjangkau semua kalangan membuat buku ini selalu nyaman dibaca. Seperti ada jutaan makna yang dapat pembaca gali dalam buku-buku adrea herata.
Sangat menarik untuk mengetahui siapa andrea herata dan latar sosial pengarang. Maka kita akan tahu latar yang memberikan inspirasi kepada karya-karya andrea herata. Kita akan mengamati dan membandingkan kekhasan andre herata dalam melukiskan situasi. dan apa pengaruh-pengaruh psikologi dan sosiologi pengarang.
Kabar terakhir menyebutkan, andrea herata menetap di Belitong yang mendapat julukan Negeri Laskar Pelangi dengan kedua orang tuanya. Namun ia sering tinggal di sebuah kabin dipinggiran sungai, di tepi kampungnya dipinggiran sungai, tanpa jaringan telpon, tanpa internet dan tanpa listrik. kadang ia secara sukarela mengajar matematika dan bahasa Inggris untuk anak-anak kecil. Ia juga sering mencoba suaranya sebagai tukang adzan di masjid.
2.      KARYA-KARYA
Pada penulisan pertama Andrea Menulis novel berjudul Laskar Pelangi. Novel ini diterjemahahkan dalam berbagai bahasa, dan menjadi Indonesia yang dibaca oleh masyarakat dunia setelah sekian lama vacum. Novel ini telah berhasil mendapatkan banyak perhargaan di luar dan di dalam negeri. Novel yang di filmkan ini juga memenangkan MIA (Movie Indonesia Award) sebagai film terispiratif dan musik terbaik. Laskar pelangi menjadi novel fenomenal.
Menyusul laskar pelangi, dan menjadi novel sambungannya. Muncullah Sang Pemimpi yang juga berhasil memberikan ispirasi kepada pencita novel di tanah air. Kemenarikan cerita dan bobot amanat, akhirnya sang pemimpi berhasil di filmkan meskipun tidak mendapat apresiasi seperti laskar pelangi yang menjadi film dengan penonton terbanyak berberapa tahun terakhir ini.
Dan masih dalam satu rangkaian cerita ditulislah Andesor, dan maryamah kapur. Meski tidak mendapat apresiasi seperti novel-novel sebelumnya. Andesor dan maryamah kapur menjadi bacaan berbobot.
Dan karya terakhir munculah Cinta dalam gelas dan padang bulan.



BAB IV
PEMBAHASAN
1.      Psikologi Pengarang.
Secara teori, terdapat hubungan antara karya dengan psikologi pengarang. Bagaimana keaadaan emosional seorang penulis akan berpengaruh terhadap karya-karya yang dihasilkan. Keadaan yang bahagia tentunya dapat mengispirasi berbagai karya yang dihasilkan. Begitu pula sebaliknya. Kedua, setiap penulis memiliki doktrin dan kepercayaan sendiri-sendiri, maka seorang penulis yang idialisme akan memunculkan sastra dengan terkadung nilai doktrin yang kuat. Ketiga, melalui jenjang pendidikan. Karena pendidikan bertujuan mencetak karakter maka penulis banyak menemukan karya sastra yang mengangkat masalah-masalah pendidikan berangkat dari masalah pendidikan penulis sendiri. Seperti yang dialami oleh andrea herata.
Maka secara singkat akan dikaji beberapa hal terkait dengan siapa Andrea hirata dan apa yang ada dalam Novel “Padang bulan” yang merupakan novel dwilogi dan dilanjutkan dengan cinta dalam gelas.
Salah satu kekhasan penulis adalah, selalu menulis karya dalam bentuk tetralogi. Secara bersambung dan berhubungan. Dalam setiap kisah, Adrea Herata secara kreatif mengganti tokoh utama. Dalam Novel Padang Bulan ini andrea Herata menyebutkan nama Enong, sebenarnya Enong bukanlah nama sebenarnya, nama ini digunakan untuk nama panggilan kesayangan. Seperti itulah nama dalam tradisi orang melayu.
Lagi-lagi andrea Herata mengangkat tokoh dari latar kehidupan sosial dalam strata paling rendah. Lintang adalah anak dari ayah nelayan miskin yang dibuat semakin miskin dengan kehilangan seoran bapak saat melaut. Dan sekaran enong adalah Seorang anak dari pasangan kuli timah dan pekerja serabutan yang memiliki dua orang adik. Dan berkali-kali tokoh miskin ini dibenturkan dengan masalah biaya jika harus berada di sebuah reguler. Mereka dipaksa kerja siang dan malam hanya untuk membiayai sekolah.
Sebegitu burukkah kondisi pendidikan Indonesia di mata Andrea Herata?
Mungkin iya jika andrea mengambil referensi dari berbagi pendidikan di moskow tempat ia mengenyam pendidikan dan dinegara kita secara nyata mempeributkan masalah materi yang tak kunjung selesai.
Setiap murid di sekolah pasti pengalaman belajar dari sekolah tempat mengeyam pendidikan. Bagaimana karakter guru, mata pelajaran yang disukai dan kawan-kawan yang berkesan.
Jelas andrea juga memiliki semuanya. Simak saja dalam Laskar Pelangi. Lintang seorang pemuda dari tanah pesisir  yang pandai dan gemar berhitung atau Matematika. Dan ia lulus cum laude dari program post graude di sheffield halam Unifesity, United Kingdom melalui bea siswa Uni Eropa. Ia sangat menekuni adalah pengembangan model-model princing terutama untuk teori ekonomi telekomunikasi. Sebuah bidang yang syarat dengan ilmu matematik.
Dan dalam novel “Padang Bulan” Andrea Herata menitipkan kegemarannya terhadap bidang studi bahasa Inggris melalui Enong, seorang anak kelas lima SD yang sangat gemar belajar bahas Inggris. Menggambarkan seorang guru bahasa inggris petama di kampungnya bernama bu Nizam. Bahkan dalam Mozaik kedua Andrea Herata memberi judul “Bahasa Inggris”.

“Novel padang bulan bermula dari kisah seorang gadis kecil berusia 14 tahun. Enong namanya. Sangat gemar pada pelajaran bahasa Inggris, namun secara mendadak harus berhenti sekolah dan mengambil alih seluryh tanggung jawab keluarga.”


Dalam dunia nyata. Andrea masih memberikan perhatian yang besar kepada dunia pendidikan dengan mengajar matematika seperti lintang dan bahasa Inggris seperti Enong.

“kadang-kadang ia mengisi waktu luang dengan sukarela mengajar matematika dan bahasa Inggris untuk anak kecil,...” dikutip dari Chole Meslin www.chloemeslincousteau.multiply.com  juni, 2010.

Jika ditinjau dari segi keluarga. Andrea herata menghadirkan keluarga yang harmonis di setiap novelnya. Sebagai tradisi orang melayu yang sangat menjujung tinggi martabat orang tua. Maka andrea menghadirkan dalam lingkungan kelurganya Ikal dan Enong. Ayah adalah malaikat berwibawa. Ayah selalu di hadirkan sebagai sosok yang bijaksana. Ayah siapa saja dalam setiap tokoh dalam lakonya.
Berikut teks yang menunjukan kebijaksanaan ayah,
buku Ini untuk anakku, Enong.
Kamus satu miliyar kata.
Cukuplah untukmu sampai bisa menjadi guru bahasa Inggris
Seperti bu Mizan
Kejarlah cita-citamu, jangan menyerah, semoga sukses.

Tertanda,
Ayah

Dalam tahap konflikasi atau tahapan masalah. Andrea benar mengaduk-ngaduk emosi pembaca. Dalam novel laskar pelangi Lintang harus kehilangan ayahnya akibat badai laut saat melaut. Dan dalam Novel Padang Bulan Enong juga kehilangan ayahnya akibat tertimbun tanah galian. Keselamatan kerja membuat seseorang harus kehilangan kebahagian. Dan sepertinya tidak ada kata selamat untuk pekerjaan seorang bersetrata redah seperti ayah Lintang dan Enong.
Keduanya kehilangan orang yang sangat bijaksana dalam kehidupannya. Yang harus menjadikan kedua-duanya mengambil alih menjadi tulang punggung keluarga dan meninggalkan bangku sekolah. Nasib rakyat kecil yang tidak pernah bergeser dari kemiskinan, pekerjaan yang mengancam keselamatan, bekerja dibawah umur dan problematika pendidikan. Semua berdasarkan sudut pandang Andrea yang disampaikan secara berulang-ulang.
            Lalu bagimana kehidupan cintanya?
            Cinta seakan menjadi nadi dalam kebanyakan novel di tanah air. meski andrea tidak mengangkat tema cinta. Namun cinta selalu mengambil bagian penting. Dari laskar pelangi hingga Bulan purnama, seorang anak Tionghoa bernama A Lim benar-benar menarik hatinya. A Ling digambar sebagai tokoh yang sempurna. Sikap santun dan senang menghargai.
Kisah cinta memang sering diangkat dalam prosa romantisme. Andrea Hirata lebih dewasa memaknai cinta yang ia masukan dalam novel-novelnya. Cinta yang ia sajikan lebih menyentuh sisi humanisme. Cinta kepada sahabat karib, cinta kepada guru, cinta kepada orang tua dan cinta kepada Allah. Dan satu cinta untuk A ling tentunya. Secara proposional ia membagi cintanya. Nama A Ling dan ayah harus berbagi cinta dalam novel Padang Bulan ini. Dan cinta kepada orang tua menjadi sangat utama. ketika Andrea Hirata secara tragis memutus harapan cintanya dengan A ling dan memenagkan cinta Ikal kepada Orang tuanya.
Dalam novelnya, ikal yang merupakan perwujudan andrea dalam novel sering dikatakan bujang lapuk, bahkan dalam salah satu keterangan :
“ikal : membentuk organisiasi pesatuan bujang lapuk. Rustman bertindak selaku dewan penasehat.”(halaman 270)
Dalam biografi Andrea Herata, disebutkan bahwa Andrea Herata ternyata masih lajang. Namun pada tahun 1998 pernah hendak menikah dengan seorang perempuan bernama Rosana, sayang pada tahun 2000 pernikahan itu gagal. Karena Rosana masih berstatus istri orang.

3.      Sosiologi Pengarang
Kondisi suatu tempat atau wilayah seorang penulis akan banyak mempengaruhi tema-tema yang diangkat dalam tulisanya. Bisa jadi ide atau gagasan sebuah tulisan muncul dari rasa keperdulian pengarang terhadap kondisi sosial Budaya yang ada dalam lingkungan penulis.
Jika kita kaji lebih jauh. Secara jelas Andrea Hirata melukiskan Pulau Belitong, Jakarta, dan Sorbonne Paris. Sebuah kota yang nyata dan digambarkan secara jelas dan nyata. Jelas ini bukan sebuah kota hanyalan yang di rekayasa oleh Andrea namun pelukisan dari pengamatanya yang nyata. Dengan kata lain Andrea benar-benar megalami kejadian demi kejadian ditempat itu.
Latar sosial yang diambil oleh Andrea Herata adalah latar sosial rakyat melayu. Dalam beberapa prosa yang lain seperti kumpulan cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A Navis, penulis menuliskan keadaan masyarakat yang Unik dengan bahasa melayu yang khas.



BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam membangun karya sastra diperlukan  berbagai unsur pembangun. Dibagi menjadi unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur ekstrensik yang menjadi  pembahasa dalam penelitian ini adalah psikologi dan Sosiologi pengarang.
Berkaitan dan pembahasan, maka digunakan  teori psikologi sastra dan sosiologi sastra.
Objek kajian sastra meliputi tiga hal, yaitu Sastra tulis, Satra Lisan dan Sastra Pentas. Sedangkan dalam penelitian ini, penelti mengabil objek penelitian sastra tulis berupa Novel berjudul Padang Bulan karya Andrea Hirata.
Dalam pendekatannya sosiologi mengamati pada tiga hal, Sosiologi pengarang, Sosiologi dalam karya sastra dan Sosiologi Pembaca.
Dalam novel padang bulan karya andrea Hirata, ditemukan keterkaitan teori dengan data-data yang ada dalam karya sastra. Baik psikologi dan sosiologi.





Daftar Pustaka
Kasnadi & Sutedjo.2010. Kajian Prosa :Kiat menyisir dunia Prosa. Yogjakarta.
Pustaka Felicia.
Antar Semi. 2003. Kritik Sastra. Bandung. Angkasa.